Home Jawa Tengah Mantan Anggota ISIS Beberkan Pengalamannya kepada Ganjar

Mantan Anggota ISIS Beberkan Pengalamannya kepada Ganjar

43
Gubernur Ganjar Pranowo menerima perwakilan PT Kreasi Prasasti Perdamaian dan mendiskusikan berbagai peluang kolaborasi termasuk konten-konten narasi kontra terorisme di rumah dinas Puri Gedeh, Senin (9/3/2020). Di kesempatan tersebut, Gubernur juga menyempatkan berbincang akrab dengan eks napiter dan WNI yang pernah tinggal di wilayah negara ISIS di Suriah.(dok)
Gubernur Ganjar Pranowo menerima perwakilan PT Kreasi Prasasti Perdamaian dan mendiskusikan berbagai peluang kolaborasi termasuk konten-konten narasi kontra terorisme di rumah dinas Puri Gedeh, Senin (9/3/2020). Di kesempatan tersebut, Gubernur juga menyempatkan berbincang akrab dengan eks napiter dan WNI yang pernah tinggal di wilayah negara ISIS di Suriah.(dok)

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM- Mantan anggota ISIS, Febri Ramdani menemui Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo di rumah dinasnya, Senin (9/3/2020). Warga Depok Jawa Barat ini ingin membantu program deradikalisasi yang digalakkan Pemprov Jateng.

Febri ditemani oleh dua orang eks narapidana terorisme (napiter) yakni Nur alias Hariyanto dan Badawi Rahman alias Yusril. Keduanya adalah warga Semarang yang pernah terlibat dalam kegiatan terorisme di Indonesia. Febri menceritakan kisahnya selama 300 hari di Suriah.

Kisah itu ia tulis dalam buku berjudul 300 Hari di Bumi Syam; Perjalanan Seorang Mantan Pengikut ISIS itu berisi tentang pengalamannya selama di Suriah.

Febri menerangkan, ia berangkat ke Suriah untuk menyusul keluarga besarnya yang terpengaruh propaganda ISIS. Dengan menjual seluruh aset di Indonesia, keluarga besarnya berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Ketika tiba di Suriah, Febri menyaksikan bagaimana kengerian yang terjadi akibat perang saudara di negara itu. Semuanya berbeda dengan apa yang ia pikirkan sebelumnya. Saya lihat negara itu hancur.

Suara bom bisa terdengar ratusan kali dalam sehari. Saya juga pernah ditangkap dan ditahan selama satu bulan oleh salah satu faksi di sana, ucapnya. Selama lima bulan Febri mencari keluarganya di Suriah.

Saat ketemu, ada beberapa saudaranya yang sudah meninggal karena dipaksa berperang. Febri pun melihat kondisi Suriah yang ternyata jauh dari propaganda yang ditawarkan ISIS. Saat propaganda berlangsung, ISIS memberikan janji bahwa semua yang mau hijrah ke daerah itu akan mendapat fasilitas termasuk gaji, tunjangan dan lainnya.

Namun faktanya itu tidak ada sama sekali. Orang-orang yang ada di sana dipaksa mengikuti kegiatan militer dan berperang, sementara yang perempuan dipaksa menikah.

Kondisi itulah yang membuat saya sadar, bahwa langkah saya salah. Saya catat semua pengalaman saya itu dalam buku ini, agar saya bisa sharing pengalaman dan mengedukasi kepada masyarakat, bahwa propaganda ISIS itu semuanya tidak benar, tegasnya.

Dirinya ingin berbagi pengalaman dan membantu Ganjar dalam upaya deradikalisasi agar lebih efektif. Saya harap bisa membantu deradikalisasi yang dilakukan pak Ganjar. Mudah-mudahan bisa menebus kesalahan saya selama ini, pungkasnya. Sementara itu, Nur dan Badawi menambahkan tentang bagaimana bahayanya gerakan radikalisme yang ditanamkan oleh kelompok-kelompok tertentu di Indonesia.

Nur yang dipenjara karena kasus Poso dan Badawi Rahman alias Yusril, pembuat senjata untuk para teroris di Indonesia itu mengatakan, keduanya terpikat dengan propaganda yang dilakukan melalui kajian-kajian di masjid oleh kelompok-kelompok itu.

Mereka sering menggelar pengajian di masjid, kemudian semakin intim menyambangi rumah untuk menanamkan paham radikal. Ini yang harus diwaspadai, karena mereka sangat terorganisir. Kami juga ingin membantu pemerintah untuk melakukan edukasi, jelas Badawi.

———
Artikel ini sudah Terbit di AyoSemarang.com, dengan Judul Mantan Anggota ISIS Beberkan Pengalamannya kepada Ganjar, pada URL https://www.ayosemarang.com/read/2020/03/09/53370/mantan-anggota-isis-beberkan-pengalamannya-kepada-ganjar

Penulis: Afri Rismoko
Editor : Abdul Arif