Connect with us

Membumikan Nilai Pancasila, Tangkal Ancaman Perpecahan

Jawa Tengah

Membumikan Nilai Pancasila, Tangkal Ancaman Perpecahan

Indonesia merupakan bangsa yang memang terlahir dari kemajemukan yang pasti. Terdiri dari 1158 bahasa daerah, 714 suku bangsa, 6 agama yang berbeda, 17 ribu pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan memiliki lebih dari 260 juta jiwa, Indonesia harusnya sudah terbiasa dengan ke majemukan. Majemuk sendiri menurut KBBI merupakan sebuah kata yang mengartikan terdiri atas beberapa bagian yang merupakan kesatuan.

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno dalam orasinya pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional di alun-alun Bandung pernah menyinggung tentang keberagaman Indonesia. “Saudara-saudara, aku gambarkan perjuangan kita sejak 1908 samai sekarang ini sebagai satu sungai. Gambaran lain adalah satu perjalanan kita mencari diri kita sendiri. Dalam 50 tahun ini kita mencari diri kita sendiri, mencari kepribadian, own identity. Kita tidak mau menjadi bangsa peniru, penjiplak, kita mau menjadi satu bangsa Indonesia dengan kepribadian corak sendiri. Tidak mau kita menjadi satu bangsa satelit, pembebek, peniru, penjiplak. Identitas dan kepribadian inilah yang kita sebut dengan Pancasila. Pancasila itu jiwa kita.

Tapi saudara-saudara saya peringatkan semuanya, janganlah seperti negara lain. Indonesia adalah satu nasional. Satu negara yang berjuang. Negara kita adalah alat perjuangan, alat untuk membina masyarakat adil dan Makmur, alat untuk menghabisi tiap- tiap penyakit dalam, kita berjalan terus dengan alat ini. Penduduk nusantara cikal bakal negara Indonesia menjadi satu bangsa dan tidak dibagi-bagi.

Pesan Ir. Soekarno ini jelas kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Hal ini mulai menjadi perhatian sejak munculnya Budi Oetomo dan masyarakat Indonesia mulai berkelompok dan berorganisasi. Banyaknya organisasi dan partai politik yang mulai terbentuk kala itu akan diterima dengan mudah oleh masyarakat apabila tujuan utamanya memang untuk mempererat dan menjaga persatuan dan kesatuan. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Bung Karno, keberagaman adalah bagian dari bangsa Indonesia yang akan membantu memakmurkan bangsa ini.

Suatu cita-cita tidak pasti akan mendapatkan ujian dalam proses pencapaiannya. Begitu juga dengan cita-cita bangsa Indonesia yang menginginkan keharmonisan dalam keberagaman. Kemajemukan memang membawa berkah tersendiri dengan banyaknya keberagaman untuk bangsa ini, akan tetapi juga menjadi sebuah tantangan bagaimana Indonesia untuk menjaga kelestariannya. Tidak sedikit oknum anti keberagaman yang memelintirkan isu SARA untuk mengoyang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Dalam hal ini yang masih sangat lekat diingatan kita tentang rasisime di Amerika Serikat.

Kematian seorang penduduk kulit hitam George Floyd pada akhir Mei kemarin yang di dengkul oleh seorang polisi kulit putih membuat gesekan yang keras pada kesetaraan ras. Gelombang gerakan anti diskriminasi kemudian meledak di seluruh penjuru Amerika Serikan bahkan dunia. Mereka semua menyerukan jangan ada lagi perlakuan diskrimasi terhadap ras kulit hitam. Dunia mengkampanyekan kesetaraan ras itu hak bagi seluruh orang di negara manapun mereka tinggal.

Peristiwa ini mungkin terjadi juga di Indonesia, dan memang sudah terjadi. Rentetan peristiwa penahanan dan intimidasi terhadap masyarakat Papua di Malang dan Surabaya, Jawa Timur, pada Agustus 2019 lalu. Peristiwa ini kemudian memunculkan aksi protes dari masyarakat Papua yang mengecam rasisme.

Kita semua perlu memperhatikan betul ancaman rasisme yang bisa merongrong persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang mana bangsa ini tidak membeda-bedakan asal suku maupun warna kulit. Rasisme bisa muncul dimana saja, baik di negara berkembang ataupun negara maju seperti Amerika Serika. Rasisme merupakan ancaman yang jelas dan nyata yang harus kita hadapi di tengah kemajemukan ini.

Membumikan Pancasila

Kita mampu memerangi masalah rasisme, akan tetapi upaya ini membutuhkan perubahan pola dan cara pandang masyarakat untuk memandang keberagaman secara lebih luas. Membangun kepercaya diri dan menanamkan kesetaraan ras di bawah paying kemanusiaan. Selain itu, para pejuang bangsa ini dahulu juga Sudah mewariskan kepada kita beberapa alat perjuangan yang salah satunya sangat kita ketahui, yakni Pancasila.

Pancasila merupakan cerminan jiwa dan karakter bangsa Indonesia. Setiap butir silanya mewaikili ciri khas masyarakat Indonesia yang beragam. Sila pertama menjelaskan berbagai macam agama dan kepercayaan di Indonesia. Sila kedua, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian yang adil dan beradab. Sila ketiga, mengutama persatuan dan kesatuan di dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Sila keempat, mengutama musyawarah dalam menjalankan proses demokrasi serta melestarikan gotong royong dalam setiap bidang kehidupan. Sila kelima, menjamin keadilan seluruh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sosial.

Pancasila adalah asas dalam bernegara, sumber hokum, dan salah satu pilar penting dalam proses bernegara dan berbangsa. Eksistensinya sangat penting, tidak bisa terpisahkan dari unsur bangsa ini. Membumikan nilai-nilai Pancasila dalam upaya memperkuat persatuan dan kesatuan Indonesia merupakan upaya tepat.

Aktifitas membumikan Pancasila bisa dengan berbagai cara, terlebih di tangan para generasi milenial sekarang. Perkembangan teknologi dan media sosial bisa dimanfaatkan generasi milenial untuk mengkampanyekan indahkan keberagaman yang dimiliki Indonesia. Generasi milenial yang penuh dengan ide-ide baru, spontanitas dan inovasi tentu mampu mengemas isu keberagaman dengan sangat apik. Melalui platform seperti Youtube, Facebook, Twitter, Instagram dan media sosial lainnya. Hal ini akan menjadi sumbangsih yang nyata dari generasi penerus bangsa. Sehingga upaya membumikan nilai-nilai Pancasila untuk memperkuat persatuan dan kesatuan sesuai amanat Pancasila bisa berjalan dengan maksimal.

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top