Connect with us

Ada Rindu-Nya Hujan di Penghujung Tahun Ini

Sastra dan Seni

Ada Rindu-Nya Hujan di Penghujung Tahun Ini

Ada Rindu-Nya Hujan di Penghujung Tahun Ini

HUJAN. Tidak pernah turun dengaan maksud yang buruk. Waktu dan keadalaanlah yang membuatnya buruk. Begitulah salah satu ungkapan yang di sematkan oleh pujangga muda Indonesia -Fiersa Basari- tentang hujan.

Siapa yang tidak kenal hujan, ia ibarat sahabat bagi umat yang mendabakan.Apakah kamu menjadi bagian dari sang penggerutu hujan? Sudahkan kamu membuka makna “Damai dalam Hujan” wahai Sahabat?

Penulis kasih tahu sesuatu. Sahabat Damai tahukan, bahwa hujan itu pengikut setia kok, ia akan mengikuti sendumu jika kau tengah sendu, hujan jugalah yang akan mengikuti bahagiamu jika tawamu sedang terhempas bersama embun waktu.

Alam semesta yang indah ini diciptakan untuk makluk-Nya. Tiada yang tahu kapan hujan akan berhenti atau detik keberapa ia akan jatuhkan air suci itu ke bumi. Manusia semestinya perlu mengerti dan menerima tentang augerah kodrati itu.

Kebanyakan dari kita, pasti akan banyak menggerutukan manakala hujan itu datang. Menghujatnya seperti tak memikirkan perasaan.

Banyak hal yang semestinya dapat kita pelajari dari hujan, mungkin kita diberi waktu yang luang untuk sejenak merehatkan kaki dan tangan yang bergerak seharian. Mengatur nafas yang sedari pagi terenggah mengejar date line, atau mungkin kita diminta untuk relaksasi dari penatnya pikiran. Bisa juga agar lancar berjualan, karena setelah hujan akan datang langit yang terang. Pastinya hujan adalah waktu yang tepat untuk mencurahkan seluruh perasaan kepada Tuhan melalui doa-doa yang penuh penghambaan.

Masih sibuk menggerutu?

Kadangkala, memang ta mengapa untuk gundah gulana karenanya, akan tetapi engkaupun perlu menyadari. Bahwa rejeki yang dijatuhkan oleh Tuhan itu sangatlah adil dan tahu kadar yang hendak dibagi.

Coba tengoklah yang di luar sana, di sekelilingmu. Ketika engkau sering mengerutu, apakah kau lebih beruntung atau justru mereka yang kau katakan kasian malah jauh lebih beruntug. Engkau tahu mengapa?

Mereka tetap bergerak tanpa mengeluh dan bersyukur tanpa kufur. Mereka yang hanya hidup dengan selembar kain untuk menutup badan, bermodalkan telapak kaki untuk alas berjalan, dengan kantong-kantong kecil mereka menyimpan bekal makan bahkan kadang kala tangan kosong berjalan tanpa teman. Manakala matahari tengah terik atau bergantian dengan awan menjatuhkan kristalik, mereka tiada rasa takut melanjutkah langkah kecilnya.  Di  bawah rinainya air langit, hati mereka dipeluk dengan selimut damai oleh Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Itulah mengapa, dalam dinginnya hujan mereka masih saja merasakan kehangatan. Kehangatan itu hadir di dalam hati dan pelukan-Nya itu mendamaikan lebih sejuk dari tiupan angin yang menggugurkan dedaunan di musim semi, Sahabat.

Hujan di Penghujung 2020

Seperti halnya hujan yang melanda dunia ini hingga akhir 2020. Hujan yang penulis maksud adalah datangnya cobaan salah satunya ialah pandemi. Melalui 2020 bukan hal yang mudah untuk seluruh insan di dunia ini. Hal yang tidak pernah terduga pemikiran sebelumnya, hujan air mata, bahkan kehilangan telah dialami oleh banyak orang. Namun, hal tersebut bukanlah alasan untuk terpuruk dalam keadaan.

Kondisi yang menuntut kecermatan, managemen kontrol, inovasi, pergerakan cepat dan kehati-hatian ini pun, dapat melahirkan banyak hal baru yang mengingatkan kita akan pentingnya kemampuan bradaptasi. Mengingatkan betapa menjaga kebersihan hati dan diri itu penting, karena sebagai bagian dari iman.

Tuhan Tengah Mengetuk Hati…

Seberapa dalamkah rasa syukur kita sebagai hamba, seberapa mampukah menghadapi cobaan dan musibah yang terjadi?

Dalam hujan yang turun hingga penghujung tahun 2020 ini. Allah, Tuhan Semesta Alam, menitipkan salam rindu yang membentangkan jarak pertemuan atau bahkan mengirimkan surat perpisahan. Alangkah indahnya, jika kita isi ruang kerinduan-kerinduan itu dengan bersujud, bertasbih, berdoa, membacakan pujian, melantunkan ayat-ayat suci dalam kitab suci. Agar kita tidak gusar, agar kita tidak akan gentar, agar sanubari yang kosong itu kembali terisi. Supaya kita tidak sibuk untuk menggerutu lagi dan lagi, menghujat dan menyalahkan waktu yang terjadi, atau membenci waktu padahal engkau pun menjadi bagian dari hal itu. Seperti saat menggerutu datangnya hujan.

Jadi,

Jangan lupa bersyukur untuk hari-harimu, ucapkan terimakasih untuk semestamu dan jaga bumimu. Jangan menggerutu bila hjan datang cukup ungkapkan “Alhamdulillah, Sykurlah, Puji Tuhan, Jagat Dewa Bathar, Rahayu  dan begitupun sesuai kepercayaan setiap orang.

Puji Tuhan dan Rahmat Allah selalu meneyertai umatnya yang pandai bersyukur. Tetap semangat dan Jaga hidup sehat dengan tetap menerapkan 3 M (Memakai Masker, Mencuci Tangan dan Menjaga Jarak), patuhi protokol masuk dan keluar dari rumah wahai Sahabat Damai Jawa Tengah dan Indonesia. Jaga Tangga Jaga Sepadha-padha Yok Sobat, Kabeh Dulur!

CRaunddoh Tul Jannah (R.T.J.)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top