Connect with us

Miliki jiwa biarawati atau biarawan tanpa menjadi biarawati atau biarawan

Agama

Miliki jiwa biarawati atau biarawan tanpa menjadi biarawati atau biarawan

“bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu …” (Yoh; 5, 16) Semua manusia yang beragama pasti pernah memiliki jiwa panggilan, panggilan untuk menuju hidup yang suci, hidup yang lebih baik dan damai. Dalam agama Katolik mereka yang menjadi biarawati dan biarawan mereka telah memenuhi panggilan Tuhan.

Siapakah biarawan dan biarawati?

Biarawan merupakan seorang laki-laki yang memfokuskan pikiran dan raganya untuk mengabdi kepada Allah, ia memenuhi panggilan Tuhan serta melakukan asketisme (kezuhudan). Dalam agama Katolik biarawan seorang laki-laki yang memiliki tarekat religius seperti Yesuit atau yang menjadi anggota suatu ordo. Para biarawan tunduk pada statuta (aturan) tarekat mereka.

Di indonesia biarawan dipanggil bruder (Belanda: broeder:saudara laki-laki), biasanya bruder melayani sebagai imam/pastor (SJ, MSF, SVD, SCJ, MSC, dsb) dan sebaga frater atau bruder (CMM, BTD, MTB, dsb).

Lalu, siapakah biarawati?

Biarawati dalam agama kristen katolik ialah seseorang yang membiara, menyerahkan hidupnya kepada Allah, dengan lapang hati, jiwa dan pikiran yang suci serta meninggalkan kesenangan duniawi. Ia tinggal di suatu biara atau tempat ibadah dan mereka juga menjadi anggota suatu oro dan tarekat seperti halnya biarawan. Para biawarawati ini biasanyadipanggil suster (Belanda: zuster, saudara perempuan). Para suster berperan dalam bidang pendidikan (formal maupun non formal) kesehatan dan pelayanan sosial di lingkungan masyarakat maupun gereja.

Suster memiliki tarekat religius biarawati yang mengkhususkan pada pelayanan religius melalui doa/biara suster kontemplatif. Seperti halnya pastor biaawati tidak menikah karena telah mengucapkan deklarasi 3 kaul yakni kaul kemurnian, kaul kemiskinan, dan kaul ketataan. Kaul ialah janji sukarela kepada Allah untuk melaksanakan tindakan yang lebih sempurna. Apa makna tiga kaul tersebut?

Kaul kemiskinan merupakan pelepasan duniawi atas hak milik untuk menyenangkan Allah. Artinya, semua harta milik menjadi miliki kongegasi atau tarekat. Keutamaan kaul kemiskinan ialah melepaskan diri dari barang-barang fana dan manusia tidak lagi memiliki hak atas apa saja yang diberikan kepadanya. Barang-barang seperti hadiah dan derma diberikannya sebagai atas ucapan terimakasih dan menjadi barang milik Kongregasi (mengacu pada Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik 668).

Kaul ketaatan lebih tinggi daripada kaul kemiskinan karena kaul ketaan suatu kurban dan ia lebh penting sebab ia membangun dan menjiwai tubuh religius. Dengan kaul ketataan para biarawan dan biarawati berjanji kepada Allah untuk taat pada peraturan-peraturan yang diperintahkan. Keutamaan ketaatan lebih utama dan luas daripada kaul ketaatan. Sebab keuatamaan ketaatan mencakup ketentuan dan peraturan dan nasihat-nasihat para pimpinan. Memenuhi perintah dengan tulus lapang dada dan sempurna; ini disebut ketaatan kehendak. Sebab kehendak mendorong budi, jiwa untuk tunduk pada nasihat pimpinan (mengacu pada Kitab Hukum Kanonik Gereka Katolik 602).

Kaul kemurnian, merupakan setiap biarawan dan biarawati lepas dari perkawinan serta menghindari larangan oleh perintah keenam (jangan berzinah) dan kesembilan (jangan mengingini isteri sesamamu). Kaul kemurnian dan kaul ketaatan tidak jauh berbeda karena wajib memenuhi peraturan-peraturan dan menghindari larangan(mengacu pada Kitab Hukum Kanonik Gereka Katolik 599).

Mereka yang mengikarkan pada tiga kaul akan hidup dalam kesederhanaan. Serta merupakan dasar kehidupan dengan cara mewujudkan iman yang sesuai nasihat injil yang ditawarkan oleh Yesus. Kita para umat Katolik maupun umat non Katolik bisa mempraktekan atas dasar keyakinan sendiri-sendiri dengan hidup yang sederhana, mematuhi semua perintah Tuhan, hidup tanpa bergelmang harta, mengamalkan hartanya untuk orang yang membutuhkan serta hidup damai penuh kasih dengan jiwa yang ikhlas dan tulus tidak berzina sesama jenis dan hidup dalam pernikahan yang sah.

Nazillatul Khuril’in

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top