NewsReligiViral

Perbedaan Puasa Hewan dan Manusia

Dikutip dari Liputan6.com ternyata ada beberapa hewan yang juga menjalankan puasa sebagaimana manusia. Hal itu tidak lain hanyalah untuk kepentingannya sendiri, seperti contoh : Ulat yang harus berpuasa selama 14-16 hari ketika sedang menjadi kepompong, atau ular yang akan berpuasa ketika akan berganti kulit.

Ulat dan ular termasuk dikategorikan sebagai binatang yang berpuasa karena keduanya memang tidak makan dan minum sampai waktu yang lama. Dan sebenarnya, hewan yang melakukan puasa tidak hanya Ulat dan ular, tetapi juga Unta, ayam betina dan beruang kutub.

Lantas, apa perbedaan puasa hewan dan manusia?

Menurut Ulama ahli ilmu fiqih, nafsu dan syahwat memang sudah memenuhi syarat sahnya berpuasa. Namun menurut para Ulama ahli hikmah memaknai sahnya puasa lebih dari itu. Puasa yang sah adalah puasa yang diterima. Puasa yang diterima adalah puasa yang maksudnya tercapai. Lalu apa maksud dari berpuasa? Maksud dari berpuasa adalah berakhlak dengan akhlak terbaik, akhlak para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW.

Sesuai dengan hal diatas, Rasulullah SAW bersabda, “Lima hal ini bisa membuat puasa seseorang tidak sah: berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat”. Jika makna puasa hanya sebatas menahan nafsu dan syahwat, maka hewan juga bisa melakukan puasa. Tapi makna luas puasa tidak hanya menahan nafsu dan syahwat, tapi juga harus berakhlakul karimah.

Seorang sa’im (sebutan orang puasa) selayaknya harus berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan dari puasa itu sendiri. Menjauhi hal-hal tercela yang dibenci bukan hanya oleh Allah SWT dan Rasulnya, tetapi juga dibenci oleh manusia.

Apalagi, berbohong, mengunjing, mengadu domba dan lain sebagainya sudah mempunyai makna yang luas. Tidak hanya berlaku untuk mereka yang melakukannya secara langsung. Tetapi juga berlaku untuk mereka yang melakukannya lewat media sosial. Keterbukaan dan kemudahan bersosial media terkadang membuat kita lupa bahwa apa yang kita lakukan juga akan dimintai pertanggung jawaban. Meskipun akun media sosial kita menggunakan akun palsu sekalipun, itu tidak berarti bahwa Allah SWT tidak tahu apa yang kita lakukan. Hal ini seharusnya menjadikan kita semakin berhati-hati terutama bermedia sosial agar kita tidak merusak makna dari puasa itu sendiri.

Maka dari itu, puasa seharusnya menjauhi dari hal-hal demikian. Mengingat, Allah SWT sangat memuliakan bulan puasa dan menspesialkan orang yang puasa sampai-sampai Allah SWT sedirilah yang langsung akan membalasnya.

Bahkan, dihadist lain Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni” (HR Baihaqi)

KH. Bahauddin Nursalim (Gus Baha) menjelaskan makna dari hadist tersebut. Gus Baha mengatakan bahwa umatnya rasullulah sangat mudah sekali mendapat pahala, bahkan dengan tidur bisa mendapat pahala. Tetapi Gus Baha mengingatkan, hal itu benar-benar akan mendapatkan pahala jika tidak meninggalkan hal-hal yang wajib dan diniatkan untuk meninggalkan maksiat. Jika masih sulit untuk melakukan kegiatan Ibadah saat berpuasa. Lebih baik untuk tidur sehingga menghindari bermaksiat saat berpuasa.

Hal itu semakin menunjukkan bagaimana istimewanya bulan ramadhan, dimana kita sama sekali untuk tidak dianjurkannya berbuat yang tidak mencerminkan ahlakul karimah sebagaimana Nabi Muhammad SAW pernah contohkan kepada umatnya.

Ketika kita sudah tahu bahwa, menyebarkan Hoax, fitnah, berkata kasar, berbohong dan lain sebagainya bukan merupakan bagian dari akhlakul karimah. Maka sebaiknya, hal-hal demikian itu kita jauhi sejauh-jauhnya. Dan lebih baik untuk melakukan pekerjaan yang bernilai ibadah atau jika tidak, lebih baik untuk tidur.

Jika bercermin dari hal diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa puasanya hewan dan manusia tidaklah sama. Jika hewan hanya berpuasa tidak makan dan tidak minum. Maka, puasa manusia tidak hanya tidak makan dan minum serta tidak syahwat, tetapi juga harus berakhlakul karimah dimanapun dan di situasi bagaimana pun.

Apalagi, Rasulullah pernah bersabda mengenai ketika kita sedang diganggu orang. Dan saat itu kita sedang berpuasa, maka kita dianjurkan untuk tidak marah dan malah memberitahu kepada si pengganggu bahwa kita tengah berpuasa.

Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa, berakhlakul karimah adalah salah satu aspek penting bagi orang yang tengah menjalankan ibadah puasa. Sampai-sampai tidurnya orang berpuasa dapat bernilai ibadah, dan marahnya orang berpuasa sangat tidak diancurkan.

Selayaknya,  berpuasa harus kita maknai secara bijak. Jangan sampai kita melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan apa yang sudah Rasulullah ajarkan. Manusia yang diberi akal seharusnya berpuasa dengan aturan-aturan yang sudah ditentukan dan karena Allah SWT, tidak seperti puasa hewan yang hanya menahan lapar dan haus dan untuk kepentingannya sendiri. Itulah yang membedakan jenis puasanya manusia yang diberi akal dan dengan hewan yang tidak diberi akal.

KARTINI PENDIDIKAN “BELAJAR BERSAMA ANAK RIMBA”

Previous article

Teorisme Dirangkul, Bukan Dipukul

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *