HalteNasionalNewsPlus-PlusTips & TrickViral

Ingin Buat Argumen Berbobot? Perhatikan 5 Hal ini!

Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan berargumen adalah salah satu hal yang sering kita lakukan. Berargumen menjadi salah satu cara kita untuk mengutarakan opini yang ingin kita sampaikan. Tapi tahukah kalian bagaimana cara argumen yang kita sampaikan berbobot? Yuk simak penjelasan ini!

Sebelum itu, kita akan bahas pengertian dari argumen. Apa sih sebenarnya argumen itu? Argumen berasal dari bahasa latin arguere yang berarti menunjukkan, membuat jelas dan membuktikan. Sedangkan di KBBI, ar·gu·men/argumen/n adalah alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian atau gagasan.

Lalu, apa saja yang perlu diperhatikan agar argumen kita bisa berbobot?

1. Gunakan bahasa yang sopan

Yang pertama banget, dan ini wajib yakni kita harus bertutur kata dengan sopan. Hal ini perlu dilakukan agar argumen kita tidak hanya mudah dipahami, tetapi kita juga akan lebih dihargai oleh lawan debat.

Dengan menggunakan bahasa dan tutur kata yang sopan saat berdebat, suasana sebat akan menjadi tenang dan bersahabat. Hal berbeda akan terjadi jika kita menggunakan kata-kata yang kasar apalagi memasukkan emosi, hal ini akan menimbulkan keributan dalam berdebat.

Contoh: “Sebelumnya Terimakasih atas pendapat yang Anda kemukakan. Namun menurut saya hal itu belum tepat, karena…”

2. Fokus argumennya, bukan personalnya

Yang kedua, adalah kamu harus berkomitmen agar semua argumenmu saat berbedat fokus kepada argumen lawan. Bukan kepadanya secara personal. Bukannya membuatmu nampak cerdas, menyerang personal lawan akan membuatmu nempak lebih bodoh.

Saat berdebat, kamu harus tetap berada pada komitmen dan mempertahankan argumenmu. Dan jangan sampai kamu melakukan hal-hal yang dapat membuat argumenmu terlihat seperti bualan belaka karena menyerang personal lawan. Dengan komitmen ini selain argumenmu jadi berbobot, kamu juga akan dikenal dengan karakter yang baik dalam berdebat.

Contoh argumen yang menyerang personal lawan:
– “Argumen yang bagus, tapi PP-mu kartun jepang.”
– “Coba pahami deh dek, …”

3. Cantumkan fakta yang valid pada argumenmu

Sebuah argumen dapat diterima ketika disertai juga dengan lebih banyak bukti yang valid kebenarannya. Semua orang memang dapat berpendapat tetapi belum tentu pendapat mereka adalah hal yang benar. Maka dari itu, mencantumkan data-data fakta pada argumenmu. Oh ya, dan tentu saja selalu cek dahulu kebenaran dari data-data fakta yang akan kamu lampirkan.

Contoh: “Menurut saya, bumi itu memang bulat dan tak mungkin datar. Hal ini juga karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh…”

4. Kontrol emosi ketika debat mulai memanas

Ini merupakan salah satu hal yang menurut penulis agak susah. Mendengarkan argumen yang berbeda dengan kita, merupakan hal yang dapat memicu emosi. Meskipun begitu, kamu harus tetap mengontrol emosi agar dapat berpikir sejernih mungkin guna mematahkan argumennya.

Lagipula, menggunakan emosi ketika berdebat tidak membuat argumenmu jadi berbobot. Selain itu, dengan membawa emosi malah dapat menimbulkan konflik bahkan merembet pada permusuhan antara dua belah pihak. Jangan sampai seperti ini ya.

5. Berpikirlah sebelum mengeluarkan argumenmu

Baca berulang kali, pahami, dan renungkan isi pendapat yang akan kamu kemukakan. Kalau perlu, bayangkan apa yang akan terjadi saat argumenmu muncul. Jangan sampai kamu asal ‘ceplos’ begitu saja melontarkan argumenmu tanpa mengevaluasinya. Hal ini akan membuat lawan bicara mematahkan argumenmu dengan mudah bila kamu asal “Ceplos” saja.

Pikirkan benar-benar setiap kata dan kalimat yang akan kamu keluarkan dari mulut atau ketikanmu ketika akan berargumen. Karena itu adalah sebuah hal yang dapat berakibat fatal jika tidak diperhatikan.

Yup itulah beberapa tips agar membuat argumenmu menjadi berbobot. Next, insyaallah penulis akan menuliskan masih berkaitan tentang berargumen terutama di poin nomor 1. Apa saja tingkatan dalam berargumen menurut salah satu peneliti. Penasaran? Pantau aja website ini terus ya.

Waspada Mutasi Corona di Indonesia

Previous article

Ingin Argumenmu Makin Berbobot? Perhatikan Hierarki Ketidaksetujuan

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *