NasionalNewsViral

Bagaimana Non-Non Biyori Mengkritik Masifnya Urbanisasi

Urbanisasi yakni berpindahnya seseorang atau sekelompok orang dari desa atau kota kecil ke kota besar merupakan topik yang tidak lepas dari masyarakat Indonesia. Bak ritual tahunan seperti Lebaran, urbanisasi sudah pasti jadi isu tahunan media massa serta pemerintah. Dilansir dari detik.com, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan bahwa tahun 2035 sebanyak 66,6% penduduk Indonesia tinggal di kota pada tahun 2035.

Ternyata tak hanya di Indonesia, urbanisasi juga dialami oleh ‘saudara tua’ kita yakni Jepang. Masifnya urbanisasi ini sampai membuat Pemerintah Jepang menyerukan masyarakat terutama pemuda di Jepang untuk kembali ke desa. Bahkan Pemerintah Jepang sampai memberikan berbagai program bantuan insentif seperti rumah ‘gratis’ di desa, agar masyarakat mau kembali ke desa.

Sebuah komik yang kemudian diadaptasi menjadi anime berjudul Non-Non Biyori, secara tersirat mengkritik masifnya urbanisasi. Cerita Non-Non Biyori berkisah kehidupan sehari-hari anak-anak diantaranya Renge, Hotaru, Natsumi, Komari dan warga lain di sebuah desa. Berbeda dengan teman-temannya yang warga asli desa, Hotaru dan keluarganya merupakan warga pindahan dari kota ke desa karena pekerjaan ayahnya. Meskipun begitu, Hotaru mampu beradaptasi dan cepat akrab dengan teman-temannya. Main ke sungai, berangkat ke sekolah, jalan-jalan ke hutan, dan kegiatan khas desa lain.

Kritik Masifnya Urbanisasi

Lalu apa dampak buruk dari urbanisasi sebenarnya? Berpindahnya para pemuda ke kota membuat desa kehilangan penduduk yang memiliki potensi dan berkualitas. Tak jarang mereka yang pindah ke kota mengenyam pendidikan yang lebih baik daripada yang lain. Urbanisasi tidak hanya berdampak bagi desa, kota juga kena imbasnya. Salah satunya adalah angka kriminalitas dan pengangguran yang meningkat.

Oke, lalu bagaimana anime dengan kisah ‘biasa’ ini memberi kritik pada seluruh pihak terkait urbanisasi? Saya akan coba menyambungkannya satu persatu. Terlepas dari apakah sang empunya cerita, yakni Atto-Sensei memang berniat atau tidak berniat mengkritik urbanisasi secara langsung.

Kritik pertama tentu untuk si pelaku urbanisasi,yakni warga desa atau kota kecil. Pandangan masyarakat desa dalam melihat kota sudah lama tertanam seperti di kota pasti bisa dapat uang lebih banyak atau di kota bisa lebih sukses. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah apalagi melihat bagaimana luasnya lapangan pekerjaan di kota. Namun sayang, mahalnya kebutuhan hidup di kota dibarengi dengan gaji yang pas-pasan malah membuat beberapa kawan dan kenalan saya malah pulang dengan tangan hampa. 

Di Non-non Biyori, saya melihat kritik terhadap pandangan masyarakat desa ke kota sangat tergambar jelas. Melalui beberapa karakter yang memilih bertahan di desa, seperti Kazuho. Kakak tertua Renge yang memilih menjadi guru di desanya sendiri setelah menempuh pendidikan tinggi. Atau Kaede, si penjaga warung permen yang juga memilih melanjutkan usaha jualan jajanan walau tak banyak pelanggan. Kazuho dan Kaede seolah mau bilang ke saya “Kamu gak akan ‘mati kelaparan’ hanya karena masih tinggal di desa. Bahkan kamu masih bisa memberi makna”.

Kemilau kota pun tak jarang membuat sikap dan perilaku seseorang yang balik dari kota ke desa bisa berubah agak ‘menyebalkan’. Di Non-non Biyori, hal ini sangat tergambar jelas pada diri Hikage, kakak kedua Renge. Di episode-episode di musim pertama, ia digambarkan merasa superior dan hebat di depan adik dan teman-temannya. Padahal Hikage baru setahun di Tokyo untuk melanjutkan studi menengah atas. Walau pada dasarnya, Hikage memang digambarkan sebagai karakter yang iseng.

Kritik selanjutnya tentu saja untuk Pemerintah. Mau Pemerintah Jepang ataupun Indonesia kebanyakan hanya mampu ‘mendorong’, ‘mengajak’, ‘menyeru’ masyarakatnya. Tanpa dibarengi dengan percepatan pemerataan fasilitas seperti telekomunikasi atau transportasi serta mengubah pandangan masyarakat, tentulah sangat tidak cukup. Padahal jelas-jelas alasan warga desa pindah ke kota selain karena lapangan pekerjaan, adalah soal infrastruktur yang membuatnya merasa terhambat berkembang.

Beberapa adegan di Non-non Biyori menggambarkan bagaimana kondisi desa yang fasilitasnya tidak merata. Terutama fasilitas komunikasi. Salah satunya saat adegan Komari berusaha mengirimkan SMS dengan HPnya Kaede, Komari sampai harus melakukan lompatan yang tinggi agar sinyalnya sampai. Lompatan yang membuat Komari kemudian terjatuh. 

Urbanisasi yang masif memang masalah yang sangat kompleks. Sebenarnya banyak unsur yang perlu diperbaiki lagi agar angka urbanisasi bisa ditekan. Namun melalui Non-Non Biyori, saya bisa melihat bagaimana beberapa hal dikritik secara tersirat. Terutama terkait pandangan warga desa melihat kemilau kota, serta untuk pemerintah terkait pemerataan fasilitas dan infrastruktur di desa.

Saya pribadi setelah menonton Non-non Biyori pun menjadi memikirkan kembali. Apakah tepat jika saya melanjutkan hidup di kota daripada kembali ke desa dan memberi makna ke orang lain? Apakah anda juga berpikir demikian?

Perjuangan Islam Menegakkan Kemerdekaan Indonesia

Previous article

Darurat Sampah Masker Ancaman Bagi Lingkungan

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *