free page hit counter

Dalam retrospektif sejarah, berdirinya negara Indonesia merupakan hasil dari lahirnya harmoni dan soliditas bangsa Indonesia. Ada dua momen fundamental yang merefleksikan spirit harmonisitas bangsa Indonesia. Pertama, Peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Saat itu organisasi pemuda dari berbagai daerah seperti jong ambon, jong java, jong celebes, jong sumatranen, jong islamieten, dan jong bataks membentuk ikrar satu tumpah darah, satu bangsa Indonesia, dan satu bahasa persatuan sebagai simbol persatuan untuk meraih kemerdekaan.

Kedua, peristiwa proklamasi kemerdekaan 1945. Momentum sekitar proklamasi kemerdekaan merefleksikan persatuan antar kekuatan politik di Indonesia. Para founding fathers mampu mencapai titik temu dengan melahirkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai bintang pemandu untuk mengelola kemajemukan bangsa. Perdebatan keras pada rapat-rapat BPUPKI dan PPKI bermuara pada resultante terbaik bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia adalah rumah besar bersama milik semua anak bangsa.

Refleksi Harmoni Kearifan Founding Fathers

Pertama, pendekatan dialog-intelektual. Bahwa tradisi kekerasan dan intimidatif bukanlah karakter pada founding fathers, mereka mengedepankan diskursus intelektual dan dialog untuk memecahkan permasalahan dan mencari titik temu. Kedua, pluralisme. Bahwa founding fathers kita telah memberikan tauladan bagaimana mengelola perbedaan dengan sikap pluralisme. Menghargai keberagaman sebagai sarana memperkuat perbedaan.

Ketiga, inklusivisme. Bahwa founding fathers kita telah menanamkan sikap inklusivitas, artinya terbuka untuk bekerjasama dengan sesama anak bangsa tanpa memandang SARA demi kepentingan nasional. Keempat, universalisme. Founding fathers memberi tauladan bagaimana menempatkan nilai universal yakni kemanusiaan dan kebangsaan di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kelima, moderasi. Founding fathers bersikap egaliter dan tidak ekstrimis, mengedepankan titik temu diantara dimensi perbedaan yang ada. Menghargai perbedaan sebagai sebuah khasanah. Keenam, nasionalisme. Founding fathers memiliki tujuan bersama untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan yang dilandasi rasa cinta terhadap tanah air.

Tantangan Harmonisitas Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045

Pemerintah telah mencanangkan visi besar Indonesia Emas 2045, yakni tumbuh menjadi negara nusantara yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan melalui pembangunan manusia dan penguasaan ilmu-teknologi, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta pemantapan ketahanan nasional. Untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, tentu memerlukan modal stabilitas sosial-politik. Sayangnya, potensi dis-stabilitas sosial-politik masih tinggi.

Menurut kajian BNPT, sepanjang tahun 2018-2022 terdapat peningkatan ekstrimisme berbasis kekerasan di kalangan muda dan pengguna internet. Hal ini selaras dengan data Kominfo, sejak 2018 hingga 2021 terdapat 3.640 ujaran kebencian berbasis SARA dan kekerasan di media sosial. Kemudian survey Setara Institute di lima kota yakni Bandung, Bogor, Surabaya, Surakarta, Padang (2023), jumlah pelajar yang intoleran adalah sebesar 5,6%, meningkat drastis dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 2,4%. Selanjutnya, menurut data Setara Institute, pelanggaran terhadap kebebasan beragama dan berkeyakinan juga meningkat.

 

Tahun

Jumlah Pelanggaran Kebebasan beragam dan berkeyakinan  

Aktor

2023

217 peristiwa dan 329 tindakan 114 aktor negara dan 215 aktor non negara
2022 175 peristiwa dan 333 tindakan

168 aktor negara dan 165 aktor non negara

2021 171 peristiwa dan 318 tindakan

168 aktor negara dan  150 aktor non negara

 

Dari data-data di atas, merefleksikan bahwa potensi disharmonisasi bangsa cukup besar, mengingat ekskalasi intoleransi dan ekstrimisme menunjukkan tren established. Disharmoni bangsa tentunya akan menjadi penghalang untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Dibutuhkan solusi secara komprehensif atas problematika ini, solusi tersebut idealnya dijiwai oleh spirit kearifan founding fathers dalam membangun negara Indonesia.

Transplantasi Memperkuat Harmoni Bangsa

Pertama, membentuk community policing. Community policing merupakan sistem ketertiban sosial yang dibangun dari kekuatan dan kesadaran komunitas lingkungan. Dasar pemikiran dari community policing bahwa menciptakan ketertiban-harmoni di akar rumput merupakan kunci meredam intoleransi-ekstrimisme. Community policing dibangun dengan partisipasi dan awareness dari masyarakat melalui forum titik temu (kerja bakti bersama/rapat bergilir bulanan), kamtibmas (ronda bersama), dan agenda-agenda kohesif. Kepemimpinan pengayoman yang kuat dari desa/kelurahan dan tokoh otoritatif menjadi kunci membangun community policing.

Kedua, satgas media sosial anti-kekerasan. Pemerintah (Kominfo) dapat bekerja sama dengan komunitas pemuda dan pegiat media sosial untuk melakukan kontra narasi di media sosial dengan memperbanyak konten-narasi yang sifatnya menjalin persatuan-harmoni kebangsaan. Selain tentunya dilakukan penghapusan/blokir konten-konten yang sifatnya kekerasan dan perpecahan secara masif-kontinu.

Ketiga, restorasi sekolah inklusif. Pendidikan adalah kunci utama untuk membangun karakter bangsa. Untuk merestorasi sekolah inklusif diperlukan dua hal yakni penekanan kurikulum yang berbasis pada nilai-nilai kebangsaan dengan porsi yang lebih banyak dan dilakukan sejak dini. Berikutnya, membentuk sistem ketertiban sekolah berbasis partisipasi komprehensif dari guru, siswa, dan orang tua siswa guna melakukan mitigasi terjadinya praktik intoleransi-kekerasan dan bullyng berbasis SARA.

Keempat, memperluas duta perdamaian. Duta perdamaian harus diperluas sampai pada level kelurahan/desa. BNPT dapat bekerjasama dengan kemendagri/kemendes untuk membentuk duta perdamaian pada level kelurahan/desa. Duta perdamaian akan diberi program kerja untuk membangun perdamaian dengan beragam rencana aksi secara kontinu dalam skala waktu tertentu.

 

Penulis : Pradikta Andi Alvat

Leave a Reply

Your email address will not be published.