free page hit counter

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah novel. Saya tidak terlalu memahami genrenya, tetapi dalam novel tersebut berisi mengenai sebuah aliran agama yang ingin membentuk sebuah pemberontakan pada NKRI, dan memang ketika saya bertanya pada ibu saya yang terbilang sudah berumur. Hal itu memang pernah terjadi. Ini memang agak menjurus ke salah satu Agama di Indonesia, tetapi menurut saya hal ini perlu dibahas dan diberikan solusi agar kedepannya tidak terjadi lagi.

Biasanya oknum tersebut akan melakukan tindakan bom bunuh diri dalam naungan kata jihad. Ya, mungkin bisa dipahami. Saya pribadi adalah pemeluk agama ini. Namun, saya sangat tidak setuju dengan tindakan ini. Tindakan yang anarkis, menyebabkan nyawa yang tidak berdosa ikut terenggut.

Mengapa saya bilang tidak berdosa? Bagaimana dengan nyawa para wanita, ibu, anak kecil, dan hewan lain? Bahkan seorang yang menjadi patokan atau contoh tidak mengajarkan untuk membunuh, meskipun terdapat perbedaan keyakinan. Dalam kitab sucinya-pun sudah tertulis dengan jelas. Lantas, Tuhan yang menciptakan itu, mengapa kaum-Nya melakukan tindakan yang menurut saya lancang ini?

Satu pikiran yang selalu saya tanyakan dalam hati saya. Sebenarnya doktrin macam apa yang mereka berikan sehingga bisa merekrut orang untuk melakukan hal keji ini? Ketika manusia suci dari kalangan kami mencontohkan betapa beliau dengan lembut menyebarkan keyakinan ini dengan cinta dan damai.

Pandangan pribadi saya, maka ketika kita hidup dengan damai akan tercipta kondisi yang harmonis. Tidak peduli tentang keyakinan, suku, ras, ataupun yang lain. Selama kita saling menghargai dan menjaga bukankah itu akan menjadi hal yang sangat indah?

Kerap kali muncul perdebatan yang akhirnya menyudutkan suatu golongan. Terlebih ketika sosial media sudah maju kini. Banyak sekali postingan, maupun komentar rasis yang membawa perpecahan. Maka menurut saya, hal ini tidak bisa dibiarkan. Dengan adanya sosial media ini seharusnya menjadikan media yang bisa mengenalkan kita pada budaya dari daerah lain, membawa suatu ilmu baru dan menghargainya.

Terlebih dengan keanekaragaman Negara Indonesia ini, meskipun kita berbeda tetapi kita adalah satu keluarga yang saling membahu untuk menjaga keamanan. Ingatkah dengan taktik Belanda ketika menjajah Indonesia dengan mengadu domba satu sama lain? Kurang lebih 142 tahun Belanda mampu menguasai Indonesia. Lalu, Jepang yang bisa menjajah selama 3,5 tahun. Maka ketika para pemuda mendengar Jepang mengakui kekalahannya pada sekutu, mereka bersatu untuk merdeka dari penjajahan. Tanpa Sayuti Melik, mungkin sekarang kita tidak tahu bagaimana tulisan asli Proklamasi. Tanpa Ibu Fatmawati yang menjahit bendera, mungkin sekarang kita tidak punya bendera kebangsaan.

Berbagai suku, agama, ras. Dari latar belakang yang berbeda, ketika mereka bersatu. Maka terjadilah satu negara yang merdeka ini, yang sekarang kita huni dengan tenang. Tanpa ancaman, tanpa kita harus takut untuk keluar rumah. Maka hal ini seharusnya kita jaga dengan baik. Terutama untuk menghargai jasa para pahlawan yang meninggal dunia ketika membela negara ini.

Tujuan mereka sederhana. Untuk mencapai ketenangan dalam hidup. Maka selayaknya kita jaga dan pertahankan. Mari kita usung pergerakan, terutama untuk kaum muda-mudi Indonesia untuk menolong tindakan yang bisa merugikan orang lain dan dirinya sendiri.

Kita gaungkan pergerakan cinta tanah air, menyayangi sesama, dan menghargai. Entah pangkat, gelar, ataupun hal lain. Mari tumbuhkan rasa menghargai, karena di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, kita adalah sama. Sesama makhluk ciptaan-Nya.

Mengkampanyekan kembali persatuan, entah itu di sosial media maupun di kehidupan nyata dalam bermasyarakat, berteman, dan lain-lain.

Sebenarnya, mungkin hal ini sudah cukup banyak dilakukan di media sosial seperti menjadi volunteer atau sukarelawan, dari sini bisa menimbulkan ilmu baru dan pengalaman yang diharapkan bisa menjadi alasan Indonesia menjadi negara dengan tingkat toleransi yang tinggi.

Mari menciptakan hal itu dengan langkah kecil seperti menghargai orang di sekitar dan menjaga kerukunan dalam hidup bermasyarakat. Tidak ada hal yang mustahil. Jika hal-hal kecil ini lekas dilakukan bisa saja menumbuhkan perasaan aman antar masyarakat secara cepat.

Harapan penulis sendiri adalah munculnya gerakan ke sekolah, maupun kampus tentang sosialisasi pentingnya hidup saling menghargai. Karena menurut penulis sendiri ini adalah usia rentan diserang oleh oknum terorisme. Sekian, terima kasih.

 

Artikel ini ditulis oleh : Abnani Azizah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.