free page hit counter

Mewujudkan perdamaian dalam kehidupan tak selesai hanya dengan menghentikan peperangan. Perlu adanya perawatan, pantauan, dan perlindungan, serta konsistensi dan kolaborasi menjadi kunci dalam implementasi. Dengan demikian, perdamaian tak hanya pada dimensi halusinasi melainkan terdeskripsi pada aksi dan interaksi.

Perdamaian hakikatnya kondisi aman, nyaman, dan damai. Tak ada gangguan sekecil apapun (baik verbal maupun non verbal), semua berjalan seimbang dan harmonis sesuai kodratnya. Perdamaian selalu mengacu pada keselarasan dan keseimbangan, bukan sebatas hubungan manusia dengan Tuhan atau dengan manusia, lebih luas hubungan manusia dengan lingkungannya (ekologis).

Dalam kaca mata manusia lingkungan terbagi dua, lingkungan hidup (alam) dan lingkungan sosial budaya. Keduanya saling mempengaruhi, lingkungan alam memberi kehidupan (pangan) dan sosial budaya memberikan nilai (moral) untuk menuntun manusia menjadi lebih tertata. Keduanya berjalan secara berdampingan dalam kehidupan, dimana manusia memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan keduanya dengan seimbang melalui segenap potensi yang dianugrahkan kepadanya.

Kondisi damai harus tercipta tidak hanya dalam hubungan manusia dengan manusia, melainkan hubungan manusia dengan alam pun perlu dilestarikan. Melestarikan alam sama halnya dengan mewujudkan perdamaian dalam kehidupan, sebab ekosistem yang terjaga akan melahirkan kondisi bumi yang seimbang serta jauh dari gejala-gelaja bencana.

Sejatinya bencana muncul akibat dari ulah manusia itu sendiri, mareka yang merusak dan mereka juga yang terkena dampaknya. Ketika bencana datang silih berganti, kondisi tersebut tidak hanya menjadikan alam semakin rusak melainkan akan mengancam kondisi kedamaian dalam kehidupan manusia. Karenanya mewujudkan perdamaian dengan alam tidak layak menjadi pengganti dalam memperjuangkan perdamaian, tapi harus menjadi poros utama dalam mewujudkannya.

Semesta selalu mamainkan peran terbaik untuk manusia, tak melihat suku, agama, dan partai politiknya, semua merasakan manfaatnya. Aloys Budi Purnomo seorang Doktor ilmu lingkungan hidup Unika Soegijapranata Semarang atau yang lebih akrab disapa Romo Budi mengatakan “ketika seorang menjemur pakaian, matahari tidak memilih siapa yang akan disinari siapapun itu pakaianakan tetap kering, selama tidak ada awan hitam menutupi (ini hanyalah sekelumit manfaat alam diberikan pada manusia).

Namun, yang terjadi saat ini sangat bertolak belakangan dengan apa yang diberikan alam pada manusia. Eksploitasi alam, sampah makanan berlebihan, tambang-tambang ilegal, serta populasi manusia kian meningkat. Alam saat ini tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia berupa pangan dan habitat, tapi juga harus memuaskan kerakusan manusia. Tentu jika diabiarkan maka dampaknya bukan hanya manusia yang menjadi korban, klompok flora dan fauna, sumber-sumber manusia pun turut terancam.

Agama secara eksplisit sudah memberikan tugas yang lugas kepada manusia agar merawat dan melindungi semesta dengan segenap potensinya. Bukankah manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin dimuka bumi ini (Al-Baqarah (2) : 30) layaknya pemimpin ialah menjadi contoh untuk masyarakat. Dalam ayat lain dikatakan bahwa manusia diperintahkan agar memelihara alam dengan bijak (Amsal 3:21) dalam prinsip Tri Hita Karana yang dianut oleh agama Hindu memiliki prinsip bahwa alam semesta adalah tempat hidup dan penghuninya memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestariannya. Nabi Kongzi juga memberikan pesan moral pada umatnya agar tidak memotong pohon tidak pada waktunya (Li Ji XXI: II: 13) yang memiliki arti tidak boleh memotong pohon sembarangan.

Upaya agama melalui kitabnya dalam rangka untuk memberi petunjuk kepeda umatnya untuk menjaga perdamaian persada bumi. Namun demikian kerusakan tetaplah terjadi dimana-mana dengan sili berganti. Lantas siapakah yang patut bertanggung jawab atas kerusakan itu? padahal petunjuk sudah termaktub jelas dalam kitab suci setiap agama, yang memiliki fungsi sebagai pengingat bagi setiap lapisan insan yang hidup dimuka bumi, termasuk tokoh dan lembaga keagamaan.

Tokoh agama dan lembaga keagamaan memiliki tanggung jawab dan peranan penting dalam mewujudkan perdamaian ekologis diindonesia. Perannya sangat strategis dalam menyebarkan nilai-nilai etika lingkungan (environmental ethics), dengan adanya kegiatan keagamaan secara masif tentunya memiliki peranan efektif untuk menyebarkan nilai perdamaian terhadap lingkungan melalui rumah-rumah ibadah dan organisasi keagamaannya.

Kerusakan lingkungan merupakan hal urgensi saat ini, diperlukannya gerakan kolektif lintas agama dan insan mulia untuk mewujudkan perdamaian ekologis di indonesia. Ini menjadi kunci optimisme negeri ini untuk memperbaiki kerusakan alam yang sedang terjadi, melalui masjid, gereja, pura, dan rumah-rumah ibadah lainnya tentu akan meningkatkan kesadaran umat dalam menjaga dan merawat perdamaian pada lingkungan.

Melalui ayat dapat menjadi pengingat umat untuk senantiasa mewujudkan perdamaian ekologis dan dampak yang terjadi terhadap pelestarian lingkungan. Rumah ibadah tak hanya sebatas mengingatkan soal kematian, tatapi juga sebagai pengingat tentang pelestarian alam. Bukankah pada zaman nabi rumah ibadah menjadi ladang dalam mencari ilmu, bersilaturahmi, dan berdiskusi tentang solusi negeri?

Harapanya adalah kita semua termasuk pelaku dan tokoh agama jangan pernah bosan terus saling memingingatkan umatnya untuk senantiasa menjaga dan melestarikan lingkungannya masing-masing, agar perdamaian ekologis dapat terwujud secara merata di seluruh negeri tercinta, indonesia.

 

Penulis : Muhaimin Hadratul Fadhil

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.