free page hit counter

Sobat Damai, tahu enggak sih? Kalau negara kita Indonesia sudah lama  diakui dunia sebagai negara yang memiliki suku bangsa sangat beragam. Meskipun demikian, disisi lain Indonesia juga menjadi salah satu negara rujukan dalam upaya pengelolaan konflik terbaik di dunia. Kemajemukan tersebut, nyatanya bukan menjadi masalah bagi masyarakat Indonesia. Tetapi, hal itu menjadi rahmat/anugrah yang diberikan Tuhan untuk bisa saling melengkapi satu sama lain.

 

Jika Sobat Damai ingin melihat dunia lebih luas lagi, berapa banyak negara yang saat ini sedang perang saudara? Atau, berapa banyak negara yang luluh lantak akibat dulunya perang saudara? Apakah Sobat Damai juga pernah bertanya-tanya, mengenai kapasitas Kepala Negara atau Menteri yang tidak bisa mengendalikan situasi konflik tersebut. Sedangkan Kepala Negara ataupun Menteri merupakan orang-orang yang terpilih, minimal mereka adalah individu terbaik diantara individu lainnya.

 

Pada dasarnya bukan peraturan dari negara yang ampuh untuk menghindari konflik antar masyarakat, tetapi norma dan budaya yang dianut masyarakatlah yang paling mujarab untuk mengindari terjadinya konflik. Meskipun demikian, peran pemerintah selaku pemegang kebijakan, tentunya tetap penting dalam membuat aturan dan menegakkan aturan.

 

Berikut, merupakan 5 norma dan budaya Indonesia yang dapat mencegah ataupun meresolusi terjadinya konflik di Indonesia. Ke-5 norma dan budaya tersebut pada dasarnya juga dapat dilihat dalam intisari dari pancasila, yakni : nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai musyawarah, dan juga nilai keadilan.

  1. Budaya Saling Menghormati

Wilayah yang kita tempati ini, atau yang lebih kita kenal sebagai nusantara. Dulunya terdiri dari kerajaan-kerajaan dengan masyarakatnya yang majemuk. Budaya saling menghormati ini bisa kita lihat dari peninggalan-peninggalan masa silam. Misalnya saja arsitek masjid Al-Aqso di Kudus, dimana menaranya serupa dengan bangunan candi yang merupakan akulturasi budaya Islam dengan Hindu-Buddha. Terdapat juga 8 keran air untuk wudhu yang diatasnya terdapat arca, hal tersebut memiliki arti Jalan Mulia Berunsur Delapan dari kepercayaan agama Buddha.

Bahkan, Sunan Kudus juga melarang menyembelih hewan sapi pada saat hari Raya Idul Adha untuk menghormati penganut Hindu saat itu. Sikap saling menghormati ini tidak hanya berhenti pada tingkatan tidak saling menggangu, tetapi pada tingkatan saling berbaur dan melebur.

Budaya saling menghormati ini juga dapat tercermin dalam sila pertama pancasila mengenai ketuhanan. Kita semua diperintah untuk saling menghormati sesama mahluk ciptaan Tuhan. Sebagai bangsa yang takut akan Tuhan, kita harus mengasihi sesama manusia.

 

  1. Budaya Ramah

Dalam survey yang dilakukan oleh lembaga ataupun organisasi internasional, Indonesia selalu dinobatkan menjadi salah satu negara teramah di dunia. Budaya ramah ini, nyatanya tidak hanya diaplikasikan kepada masyarakat sebangsa dan setanah air, tetapi juga bagi siapapun termasuk kepada orang asing.

Sikap ramah ini menjadikan masyarakat Indonesia mudah bergaul karena membuat nyaman dan aman lawan bicaranya. Koflik antar manusia di Indonesia menjadi sungkar terdengar jika semuanya saling memberi senyuman.

Sila kedua pada pancasila mengenai nilai kemanusiaan, juga dapat tercermin dalam budaya ramah. Masalahnya, kebanyakan kita menganggap kemanusiaan hanya dinilai dari bantuan yang diberikan manusia satu kepada manusia lain. Padahal, hanya dengan senyum kepada sesama, ramah kepada manusia lainnya, kita juga telah memanusiakan manusa dan memberikan rasa aman dan nyaman untuk sisi kemanusiaan itu sendiri.

 

  1. Budaya Gotong Royong

Tidak hanya dinobatkan sebagai salah satu masyarakat teramah di dunia, Indonesia juga dinobatkan sebagai negara terdermawan se-dunia. Hal ini terlihat dari sumbangsih dan bantuan-bantuan masyarakat Indonesia terhadap isu-isu sosial yang saat ini terjadi di beberapa negara.

 

Tentu, hal tersebut merupakan cerminan dari sikap gotong-royong masyarakat Indonesia. Sikap saling bahu-membahu tersebut muncul didasari oleh perasaan sebagai sesama manusia dan ciptaan Tuhan yang harus saling mengasihi satu sama lain.

 

Budaya Gotong Royong ini dapat tercipta karena rasa persatuan dari masyarakat Indonesia yang tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, tetap juga memprioritaskan kepentingan bersama. Hal ini sesuai dengan sila ke tiga pancasila mengenai persatuan.

 

  1. Budaya Musyawarah

Musyawarah menjadi salah satu budaya penting bagi bangsa Indonesia, keberadaan budaya ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pedesaan, tetapi juga sudah diakomodir oleh lembaga-lembaga negara seperti DPR maupun MPR RI.

Melalui budaya musyawarah, masyarakat Indonesia mengedepankan dialog untuk menjasdi salah satu cara penyelesaian konflik yang sangat baik. Dengan adanya dialog ataupun ruang temu, hal tersebut tidak hanya menjadi tempat untuk penyelesaian konflik saja, tetapi juga ruang untuk menghindari akan terjadinya konflik itu sendiri. Karena musyawarah dapat mengakrabkan dan dapat mencarikan solusi terbaik untuk semua. Hal ini sejalan dengan nilai pancasila ke empat mengenai musyawarah.

 

 

  1. Budaya Senasib Sepenanggungan

Sebelum menjadi negara Indonesia, wilayah Nusantara merupakan wilayah yang menjadi rebutan para penjajah. Tanah yang subur, alam yang indah, dan rempah-rempah yang melimpah menjadikan wilayah Nusantara tidak pernah sepi dari penjajah-penjajah yang ingin menguasai semua hasil bumi.

Melihat dari sejarah perjuangan tersebut.  Semua masyarakat Indonesia yang beraneka suku ini sudah layaknya seperti saudara, jika ada yang sakit, sakitlah semuanya. Terlebih lagi, relasi saat jaman kerajaan juga turut menegaskan akan hubungan antara suku bangsa di Indonesia.

Budaya Senasib Sepenanggungan kemudian menjadi kekuatan persatuan masyarakat Indonesia yang beragam ini. Oleh karena itu, keadilan juga harus ditetapkan dengan seadil-adilnya, karena semua suku bangsa di Indonesia memiliki hak yang setara. Hal ini sesuai dengan sila ke lima yakni, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak ada lagi yang boleh dianak tirikan ataupun didiskriminasi, karena keadilan bagi masyarakat senasib sepenanggunan adalah, “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”.

 

Penulis : Yoga Pratama

Leave a Reply

Your email address will not be published.