free page hit counter

Hallo Sobat Damai, berbicara mengenai Indonesia sekarang ini, tidak bisa lepas dari sejarah bangsa Indonesia itu sendiri. Masyarakat yang hidup berdampingan dan menerima adanya perbedaan kelompok satu dengan yang lain tidak dapat dibentuk hanya dalam satu ataupun dua tahun. Tetapi berabad-abad lamanya hal itu terbentuk dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Kita bahkan tahu dari buku-buku sejarah bagaimana Raja Rakai Pikatan yang berandil besar dalam membangun Candi Prambanan (Hindu). Dia mempunyai seorang istri bernama Pramodhawardani yang beragama Buddha, juga sebagai seorang yang meresmikan berdirinya Candi Agung Borobudur yang dibangun oleh ayahnya. Rakai Pikatan juga membantu istrinya membangun candi Budhha, seperti candi Plaosan (Buddha) yang tidak jauh dari Candi Prambanan (Hindu) sebagai symbol toleransi antar kedua agama.

Dari era ini (Mataram Kuno), perbedaan tidak menjadi penghalang untuk tetap hidup dalam keharmonisan. Dengan demikian, pemerintah saat itu tidak perlu meluangkan waktu untuk mengurusi konflik yang berkaitan dengan agama ataupun kepercayaan. Sehingga, pemerintah bisa fokus untuk mensejahterakan semua rakyatnya tanpa terkecuali. Hal itu juga dapat ditelusuri kehidupan sosial masyarakat era Mataram Kuno yang sejahtera, dan tercermin dalam peninggalan candi ataupun karya sastra pada masa itu.

Keharmonisan tersebut juga dapat dilihat dari Kerajaan Majapahit (Hindu-Buddha), kemudian diteruskan oleh kerajaan Demak dengan corak Islam. Dalam era kerajaan Demak ini, terdapat juga peninggalan terkait berbeda tetapi dapat bersatu,misalnya saja arsitek masjid Al-Aqso di Kudus, dimana menaranya serupa dengan bangunan candi yang merupakan akulturasi budaya Islam dengan Hindu-Buddha. Terdapat juga 8 keran air untuk wudhu yang diatasnya terdapat arca, hal tersebut memiliki arti Jalan Mulia Berunsur Delapan dari kepercayaan agama Buddha.

Bahkan, Sunan Kudus juga melarang menyembelih hewan sapi pada saat hari Raya Idul Adha untuk menghormati penganut Hindu saat itu. Sikap saling menghormati ini tidak hanya berhenti pada tingkatan tidak saling menggangu, tetapi pada tingkatan saling berbaur dan melebur.

Era sekarang ini. Dengan mayoritas masyarakat muslim. Peninggalan-peninggalan sejarah, yang notabene sudah berbeda dari segi agama itu masih tetap berdiri dengan megah dan masih terawat dengan baik. Hal ini juga menunjukkan bahwa keberagaman merupakan identitas bangsa ini yang tidak dapat dipisahkan. Maka, sudah jelas bagi kita untuk terus merawat keberagaman dan tidak perlu membuang-buang tenaga, waktu, pikiran untuk menolak keberagaman yang sudah ada sejak jaman dulu. Lebih baik fokus membangun Indonesia agar lebih maju dan masyarakat bisa semakin sejahtera.

 

Penulis : Yoga Pratama

Leave a Reply

Your email address will not be published.