free page hit counter

Beberapa tahun belakangan ini kita dibuat takjub dengan ceramah-ceramah yang memberikan pengetahuan baru. Menjadikan kita merasa bahwa ilmu kita, tidak ada sebanding dengan banyaknya ilmu yang belum kita pelajari. Beliau adalah Kh. Bahaudin Nursalim, atau biasa dipanggil Gus Baha. Gus Baha adalah seorang ulama yang saat ini sedang digandrungi oleh masyarakat Indonesia, terlepas dari perbedaan pandangan ataupun khilaf dalam memahami Al-Qur’an dan Al-Hadist.
Meskipun Gus Baha tidak mengenyam pendidikan sekelas universitas dimanapun, hanya berbekal menjadi santri dan itupun di Pondok Pesantren di Indonesia. Sanad keilmuan beliau tidak diragukan lagi keluasannya, sehingga ulama-ulama lainnya, bahkan dari lintas ormas dan mazhab mengakui kedalaman ilmu agama Gus Baha, seperti oleh Ustads Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, hingga Habib Bahar Bin Smith dls.
Gus Baha juga merepresentasikan Islam Indonesia, dimana Islam Indonesia dimaknai merupakan Islam yang sangat menjunjung tinggi perdamaian, menjunjung tinggi kemanusiaan, menjunjung tinggi budaya Indonesia yang tidak bersebrangan dengan Islam, Islam yang anti mengkafirkan, dan menjunjung tinggi kecintaan kepada bangsa dan negara.
Lebih jauh mengenai Gus Baha, beliau adalah putera dari Kh. Nursalim Al-Hafidz. Beliau saat ini merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Narukan, Kragan, Rembang. Pondok Pesantren beliau tersebut selalu ramai dikunjungi dari berbagai kalangan setiap harinya. Terlepas, para tamu yang datang berniat untuk ikut mengaji, ataupun hanya sekedar bersilaturahmi dengan Kiai kondang tersebut.
Sewaktu masih belia, Gus Baha dititipkan oleh ayahnya kepada kiai kharismatik asal rembang, beliau adalah KH. Maemun Zubair. Kh. Maemun Zubair ini terkenal sebagai seorang yang Ahli Fiqih. Di Pondok Pesantren Al Anwar inilah, Gus Baha mengkhatamkan hafalan Hadits Shahih Muslim lengkap dengan matan, rawi, dan sanadnya. Selain Shahih Muslim, Gus Baha juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu’in dan kitab-kitab gramatika Arab, seperti Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.
Meskipun secara pribadi Gus Baha tidak memiliki Sosial Media, para santri beliaulah yang meng-upload semua pengajian beliau di sosial media. Hal itu menjadikan para pendengarnya tidak hanya lagi mereka yang ikut mengaji secara langsung dengan beliau, tetapi juga dapat disaksikan seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali.
Bahkan menurut survey yang dilakukan oleh Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unisula) mengenai, orang-orang yang mendengarkan pengajian Gus Baha ternyata bukan hanya dari kalangan pesantren ataupun Nahdliyin (Sebutan untuk Warga NU) saja. Mereka yang ikut mengaji secara online terdiri dari berbagai kalangan lintas Ormas Islam dan Lintas Madzhab, bahkan sampai lintas Iman. Hal ini menunjukkan bahwa Gus Baha bisa diterima disemua golongan masyarakat tanpa syarat.
Pengajian yang terkesan ringan tetapi mendalam membuat siapapun ingin terus belajar. Hal ini wajar, mengingat jika agama bawakan oleh orang-orang ahlinya semua akan terasa ringan. Tidak hanya orang awam yang datang kepada Gus Baha, tetapi juga para mantan pelaku teror. Karena menurut pandangan mereka, Gus Baha adalah sosok yang tepat karena ketajaman keilmunya.
Gus Baha sendiri memang sering menyinggung dan mengkritik orang-orang ekstrimis dalam beragama. Kritikan itu bukan hanya kritikan biasa, tapi kritikan dengan ilmu yang membuat satu persatu anggota kelompok ekstrimis itu sadar dengan apa yang sudah ia lakukan.
Misalnya, Gus Baha pernah berkata mengenai seseorang Muslim yang mengucapkan kalimat syahadat, karena berada disuatu tempat yang kurang tepat, dianggap menjadi kafir. Gus Baha mempertanyakan itu, bagaimana bisa itu terjadi, sedangkan orang kafir 70 tahun dengan mengucapkan kalimat syahadat bisa menjadi muslim. Sekarang kok, orang muslim dengan kalimat yang sama bisa menjadi kafir, hanya karena salah tempat?
Gus Baha juga pernah mengangkat sejarah tentang Ibnu Muljam, seorang yang taat beribadah tetapi membunuh menantu/ponakan/sahabat nabi Muhammad SAW, yaitu Ali Bin Abi Tholib. Hal tersebut terjadi karena cara pandang Ibnu Muljam yang salah. Ibnu Muljam menganggap dirinya benar dan menganggap Ali Bin Abi Tholib sudah melakukan kekafiran, karena dianggap tidak menjalankan hukum Allah SWT.
Padahal kita juga tahu bahwa Ali Bin Abi Tholib adalah salah satu dari sepuluh sahabat nabi yang dijamin masuk syurga. Dan nyatanya cara pandang seperti Ibnu Muljam yang merasa paling benar sendiri diantara perbedaan para ulama masih banyak pengikutnya sampai sekarang. Dampak yang timbul kemudian dari cara pandang tersebut adalah saling mengkafirkan, dan kemudian menjadi halal darahnya.
Masih dalam pengajian Gus Baha, beliau juga pernah bercerita tentang Syech Syahrowi bertemu pemuda ekstrimis. Pemuda tersebut ingin mengeboom orang-orang Islam yang sedang maksiat, dugem di dalam sebuah acara. Syech Syahrowi kemudia bertanya kepada pemuda tersebut, “Kalau kamu boom dan mereka mati, mereka mati dan masuk kemana?”.
Lalu, pemuda itu menjawab, “Ya ke neraka, karena mereka mati dalam keadaan maksiat,” tegasnya.
“Lalu kalau mereka semua masuk Neraka. Itu keinginan setan atau keinginan Rosulullah. Apakah rosulullah menginginkan ummatnya masuk neraka?” tanya Syech Syahrowi.
Pemudia itu menjawab, “Bukan keinginan Rosulullah.”
“Ya sudah, kalau Rosullullah tidak menghendaki ummatnya masuk neraka. langan dilakukan. Kita tunggu taubatnya,” terang Syech Syahrowi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.