Connect with us

Sradha Bakti; belajar beragama dari kacamata Hindu

Agama

Sradha Bakti; belajar beragama dari kacamata Hindu

Untuk saat ini walaupun umat Hindu minim dalam segi kuantitas, namun mereka sudah ada sejak abad pertama di Indonesia. Mulai abad ke-4 hindu mulai menyebar dibeberapa kerajaan yang ada di Indonesia, kerajaan-kerajaan tersebut antara lain kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Tarumanagara di Jawa Barat, dan Kalingga di awa Tengah. Kerajaan Hindu Kuno yang paling dilirik dan menonjol ialah Mataram yang terkenal karena membangun Candi Prambanan yang megah, sejak saat itu agama Hindu bersama dengan agama Buddha menyebar di nusantara termasuk paling banyak pengaruhnya ialah di Jawa hingga abad ke-15. Era ini disebut dengan Era Klasik Jawa yang dimana sastra, seni dan arsitektur Hindu-Buddha berkembang serta menjadi masuk ke dalam budaya lokal di Nusantara di bawah perlindungan keraton Hindu Jawa.

Agama Hindu memiliki keyakinan bahwa satu keberadaan sang Maha tinggi disebut “Ida Sang Hyang Widhi Wasa”, “Sang Hyang Acintya”, atau “Sang Hyang Tunggal”. Dalam agama hindu memiliki keyakinan Panca Sradha yaitu Lima dasar keyakinan. Panca yang berarti lima dan Sradha yang berarti iman, keyakinan, atau kepercayaan. Lima dasar keyakinan tersebut yang pertama ialah percaya adanya Brahman, Atma, Karma Phala, Purnabhawa, Moksa.

Sedangkan, arti Bhakti (Dewanagari) ialah pengabdian. Bhakti dalam agama Hindu memiliki pemaknaan yang berbeda-beda. Namun biasanya Bhakti dalam agama Hindu ini menyangkut hubungan antarmanusia seperti kekasih, sesama teman, keluarga, dan tuan-hamba. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa tjuan hidup beragama didalam agama Hindu ialah Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma Atmanam yang artinya dapat mencapai esejahteraan duniawi dan kebahagiaan rohani, atma / jiwa. Kesejahteraan duniawi subjeknya adalah manusia itu sendiri secara lahiriah, dan kebahagiaan rohani subjeknya adalah iwa/atma.

Maksud dari Sradha Bhakti yang kita telah maknai diatas bahwa beraga yang dijarkan dalam agama Hindu ialah harus memiliki iman/keyakinan (Sradha), kita harus beriman dengan damai, santai, leluasa, dan bahagia tanpa adanya pikiran negatif atau hal-hal yang tidak baik dalam beriman. Maka dari itu hindu memiliki lima bentuk dalam keyakinan yang diseut Panca Sradha. Setelah kita memiliki iman maka kita akan mengamalkannya dengan bentuk perbuatan yang berarti Bhakti, Bhakti yang telah dijelaskan diatas wujudnya ialah keaktivan dalam mengamalkan dan memeluk keyakinannya. Bhakti dalam agama Hindu diambil dari kata bhaj yang berarti hormat, sujud. Maksudnya ialah senantiasa melakukan sembahyang, upacara, dan ritual-ritual yang diajarkan dalam agama Hindu. Maka, ketika kita melihat ajaran Sradha Bhakti kita juga telah memiliki pondasi dan toleransi yang baik dalam beragama, sebagaimana telah dikutip dalam salah satu Sloka :

Yo-yo ya-yam tanum bhakta

Sraddhaya ‘rchitum achchhat

Tasya-tasya ‘chalam sraddham

Tam eva vidadhamy

Artinya : ”Apapun bentuk kepercayaan yang ingin dipeluk oleh penganut agama, Aku perlakukan kepercayaan mereka sama, supaya tetap teguh dan sejahtera” (Bhagawadgita; VII.21)

Bhakti adalah wujud cinta kasih, penyerahan dir, sujud kehadapan Hyang Widhi/Brahman. Maka sradha dan bhakti ialah hal yang tak dapat dipisahkan dalam beragama, jika kita telah beriman maka kita kan memiliki bentuk kasih sayang terhadap semua makhluk ciptaan Brahman, kita tidak akan melukai siapapun, saling mengasihi dan tolong menolong sebagaimana telah diajarkan dalam ajaran agama Hindu. Dalam kitab Bhagavata Purana atau Srimad Bhagaavatam ada 9 jenis cara mewujudkan rasa Bhakti terhadap Brahman yaitu Sravanam, Kirtanam, Smaranam, Padasevanam, Arcanam, Dasya, Sakhya, dan Atmanivedanam. Apapun jalan yang kita tempuh jika kita lakukan dengan kesungguhan, keyakinan, dan tulus maka akan sampai kepada kebahagiaan dalam kehidupan beragama, sebagaimana dalam kitab Bhagavadgita Bab IV Sloka 11 :

Ye yathaa maam prapadyante taamstathaiva bhajaamyaham

Mama vartmaanuvartante manushyaah paartha sarvasha

Artinya : Bagaimana pun (jalan) manusia mendekatiKu, Aku terima, wahai Arjuna. Manusia mengikuti jalan-Ku pada segala jalan.

Jika kita mengikuti jalansebagaimana dijelaskan diatas maka kita akan memiliki sikap kasih sayang, toleransi, dan tidak saling mencela sesama umat manusia.

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top