free page hit counter
Meniti Pemilu Damai dengan Harapan tanpa luka

“Lupakan politik yang liar dan bingar. Mau minum kopi atau minum aku? Atau bersandarlah di punggungku yang hangat dan liberal, sebelum punggungku berubah menjadi punggung negara, yang dingin perkasa,” 2018 puisi di syairkan oleh Joko Pinurbo.

Bahasa jalanan sekarang tak hentinya berkeliaran diranah sosial media yang menjadikan anak muda ikut-ikutan, sosial media penuh hoax dan saling menghujani saling menyerang.
seperti puisi Jokpin yang menuturkan “Ayahku sedang menjadi bahasa Indonesia yang terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan.” Keluarga Khong Guan, 2019.

Sudah seharusnya tahapan pemilu para Capres-Cawapres membawa kehangatan dengan pelukan bersama masyarakat untuk saling menghargai. Proses kehadiran mereka sudah seharusnya dan disadari untuk tetap menjaga nilai-nilai luhur, etika dan budaya demokrasi Indonesia.

Para aktivis dan masyarakat yang dengan peduli membuka diskusi tiap debat ketiga pasangan dengan berbagai manuvernya, agar tak salah pilih dalam memilih pemimpin negeri.

Proses menyuarakan gerakan tiap partai sudah seharusnya membawa kreativitas dan semangat dalam menjunjung visi-misi tiap kandidat. Bukan sekedar suara coblosan nomor yang membuat gaduh hingga jiwa nasionalis tiap individu hilang.
“Ayahku sedang menjadi nasionalisme yang bingung dan bimbang” Agama Khong Guan, 2019 dalam puisinya Jokpin.

Mari ciptakan pemilu damai dengan gencar melalui aplikasi Campagain “Harapan Pemilu Damai” bersama Duta Damai BNPT RI Regional Jawa Tengah.

 

Penulis : Nazillatul Khuril’in

Editor : Laila Fathia Zulfiani

Leave a Reply

Your email address will not be published.