NasionalNewsPendidikanPlus-PlusReligi

13 Mei 2021 dalam Keberagaman

Dalam setiap Agama memiliki hari besarnya masing-masing. Sebagai contohnya adalah umat Muslim yang merayakan Idul Fitri, umat Kristiani dan Katholik dengan perayaan Natalnya, umat Budha dengan perayaan Waisak, Hindu dengan perayaan Nyepi dan Konghucu dengan suka cita Imlek. Tanggal 13 Mei 2021 kemarin dinilai menjadi hari yang sangat istimewa. Setelah Tahun 2020 lalu perayaan Kenaikan Isa Almasih dilaksanakan beberapa hari sebelum perayaan Idul Fitri 2020, kini perayaan Idul Fitri 1442 H/2021 M akan dilaksanakan bersamaan dengan hari kenaikan Isa Almasih tepat ditanggal yang sama.

Meskipun secara resmi Pemerintah belum menetapkan 1 Syawal 1442 H, momentum ini tetap akan menjadi momen yang sangat unik karena pada dasarnya sangat jarang sekali terjadi dua momen besar umat beragama yang dirayakan secara bersamaan. Akan tetapi momen istimewa ini telah menjadi momen pertama kalinya yang secara bersamaan dirayakan dengan suasana yang berbeda. Hal ini lantaran pandemi Covid-19 masih belum usai. Walaupun perayaan Tahun ini masih ada kemungkinan untuk dirayakan secara virtual, tentunya tidak akan mengurangi kekhitmatan dan makna dari masing-masing hari besar umat Muslim dan Umat Kristiani.

Kenaikan Isa Almasih merupakan momentum dimana umat Kristiani merayakan momen istimewa yakni momen kenaikan Yesus ke Surga setelah mati disalib. Menurut Agama Kristiani hari Kenaikan Isa Almasih dirayakan tepat 40 hari setelah perayaan paskah, yang mana sesudah bangkit dari kematian, Yesus masih menjumpai murid-muridnya selama 40 hari dan selama kurun waktu tersebut Yesus menunjukkan seluruh mukjizat kepada murid-muridnya dan dihadapan muridnya pula Yesus naik ke Surga. Sedangkan bagi Gereja Katolik kenaikan Isa Almasih sebagai hari kenaikan Tuhan. Mereka mengimani bahwa Hari Kenaikan Tuhan disebut sebagai penebusan janji Yesus Kristus. Hari kenaikan Tuhan dimaknai sebagai sebuah penantian akan datangnya Yesus Kristus ke dunia di akhir zaman kelak.

Momen kenaikan Yesus ke Surga memberikan pesan penting arti sebuah pengorbanan hidup. Yesus menyerahkan dirinya ke tangan orang Yahudi atas kehendak-Nya sendiri demi keselamatan umat-Nya seperti halnya Gembala yang baik yang menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:11,18). Perayaan Kenaikan Isa Almasih juga menjadi wujud perayaan berkat yang merupakan ungkapan kasih sayang Tuhan kepada ciptaanNya dan sembah sujud manusia sebagai wujud ungkapan kasih sayang dari manusia kepada Tuhan-Nya. Seperti halnya dalam Islam diajarkan untuk mengasihi Allah karena sejatinya Allah telah lebih dahulu memberikan kasih sayangNya kepada seluruh umat-Nya, bahkan tidak sedikitpun kasih sayang Allah berkurang untuk seluruh umat ciptaan-Nya.

Idul Fitri merupakan momen perayaan umat Muslim dimana setelah mengerjakan puasa selama 30 hari mereka “kembali ke fitrah” yang artinya kembali suci dan bebas dari dosa. Bebas dari dosa ini menjadi makna dari kembali ke fitrah yang ditandai dengan adanya bulan Ramadhan sebagai bulan yang penuh ampunan. Secara harfiah “Kembali ke fitrah” berarti kembali atau pulang kepada Allah. Karena atas fitrah-Nya fitrah kita diciptakan (QS. Ar-Rum: 30). Bagi umat Muslim dengan perayaan Idul Fitri artinya semua orang akan memasuki babak kehidupan baru. Makna idul Fitri dapat diartikan sebagai wujud rasa syukur atas kemenangan yang didapatkan setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Pada dasarnya tidak banyak orang yang menyadari bahwa sejatinya kehidupan manusia hanyalah sebuah perjalanan yang pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya, begitupun dengan Kenaikan Isa Almasih yang dimaknai sebagai perjalanan pulang kepada-Nya. Kenaikan Isa Almasih dan Idul Fitri memiliki hubungan kesinambungan lantaran kenaikan Yesus ke Surga ini serupa dengan manusia yang kembali ke fitrahnya.

13 Mei 2021 kita semua melangkahkan kaki menuju tempat beribadah, hanya saja mungkin kita berjalan dengan arah yang berbeda. Saya melangkah ke Istiqlal dan Kamu ke Katedral. Saya dengan Tasbihku, kamu dengan salib didadamu. Disaat saya mengucap Assalamualaikum, kamu mengucap shalom. Saya membawa Alquran, kamu membawa Al kitab. Kita sama-sama mengagungkan nama Tuhan. Saya menyebutnya dengan Allah SWT, sedangkan kamu menyebut Yesus Kristus. Kita sama-sama berdo’a. Saya menengadahkan tangan, kamu mengepalkan tangan. 13 Mei 2021 menjadi hari istimewa untuk kita. Bukan tentang Aku, kamu dan Kita, bukan pula tentang Istiqlal dan Katedral. Kita semua memang berbeda dalam mengucap nama Tuhan, tetapi bukan tidak mungkin kita untuk saling harmonis dan menjaga kebersamaan, sedangkan Istiqlal saja berdiri berhadapan bersama Katedral. Pentingnya pemahaman tentang sebuah perbedaan akan membuat kita semua menjadi peka, menganggap penting adanya tenggang rasa, toleransi dan menghargai perbedaan antar sesama. Agustin Nurul N./ Raundoh Tul Jannah (R.T.J.)

Ingin Argumenmu Makin Berbobot? Perhatikan Hierarki Ketidaksetujuan

Previous article

INDIA : Belajar Tidak Harus Mencoba

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *