Internasional

INDIA : Belajar Tidak Harus Mencoba

Beberapa bulan belakangan ini, India menjadi perhatian dunia karena meningkatnya angka masyarakat yang terjangkit virus Corona serta banyaknya angka kasus kematian akibat hal tersebut. Hal ini menjadikan kekhawartiran sendiri oleh para ilmuan jika virus Corona ini bermutasi dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

    Meskipun apa yang terjadi di India sudah diberitakan ramai dibanyak media, rupanya masih banyak masyarakat yang menganggap remeh virus ini dan ada juga yang menganggap virus ini tidak ada ataupun hanya konpirasi elit global. Masyarakat Indonesia menjadi salah satu contohnya, kita dapat melihat bagaimana masyarakat masih acuh tak acuh mengenai virus ini sehingga apa yang sudah menjadi aturan yang diterapkan pemerintah tetap saja dilanggar.

    Jika kita berkaca pada India, pola seperti itu ternyata mirip dengan di Indonesia. India menjadi parah sedemikian ini oleh akibat dari masyarakat yang tidak patuh akan aturan pemerintahnya. Masyarakat India sendiri berdalih melakukan ritual keagamaan sebagaimana contoh mandi massal (Festival Kumbh Mela) di sungai Gangga sehingga terjadi penumpukan masyarakat serta tidak menghiraukan protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. Akibat dari itu, muncullah klaster baru dari penyebaran virus corona sampai separah ini (Super Spreader tsunami Covid 19 India).

    Pemerintah akan dibuat kewalahan jika banyak hal selalu dikaitkan dengan agama. Hal tersebut juga menjadikan Pemerintah India tidak bisa melakukan banyak hal akibat dari desakan masyarakat yang sangat besar tersebut untuk terus melakukan ritual keagamaan. Pola seperti ini juga beberapa kali terjadi di Indonesia.

    Sekarang, angka kematian akibat Covid 19 di India sudah mencapai 4000 orang perhari dan hal tersebut tercatat oleh Kementerian Kesehatan India terjadi untuk pertama pada Sabtu, 8 Mei 2021 dilansir dari cnnindonesia.com.  Akibat keluarga tidak mampu untuk membakar jenazah bagi anggota keluarga yang meninggal karena tidak ada biaya dan persediaan kayu bakar yang sudah menipis,  terjadi penumpukan jenazah dimana akhirnya banyak mayat yang dibuang ke sungai Gangga. Hal tersebut sunggu ironi apalagi mengingat ketersediaann lahan pun sangat sempit, apalagi diketahui bahwa India adalah negara yang padat dengan jumlah penduduk yang sangat besar.

    Tidak hanya itu. Hal tersebut juga mengakibatkan, para petugas di krematorium kewalahan, sehingga para petugas harus melakukan pembakaran mayat secara masal. Pembakaran ini akhirnya mengakibatkan langit India dipenuhi dengan asap hitam tebal. Meskipun demikian, ternyata tetap ada masyarakat di India yang tidak percaya akan virus ini dan malah menganggap virus ini adalah energi jahat, sehingga mereka berbondong-bondong pergi kedukun, ataupun mengusapkan kotoran sapi ketubuhnya sebagai penangkal. Bahkan ada pula sebagian masyarakat yang menepeli perut dan bagian tubuhnya dengan besi yang dipanaskan agar roh jahat yang masuk dapat segera pergi.

    Pola-pola tersebut beberapa kali terjadi di Indonesia. Jika masyarakat tidak patuh akan aturan pemerintah, serta pemerintah tidak bertindak tegas hanya karena dibenturkan dengan ritual keagamaan yang sifatnya Tidak wajib. Maka, bisa saja Indonesia menjadi India kedua. Karena sesuangguhnya agama manapun tidak memaksakan umatnya untuk beribadah apabila hal tersebut dapat membahayakan nyawa umatnya. Oleh karena itu mari kita bergotong royong untuk mewujudkan Indonesia yang berdaya literasi yang baik, agar ekonomi bisa segera pulih dan virus covid-19 pun mata rantainya dapat segera pergi serta terputus. Yoga Pratama/Raundoh Tul Jannah (R.T.J.)

13 Mei 2021 dalam Keberagaman

Previous article

Mengenal Hamas, Gerakan ‘Keras’ Pembebas Palestina

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *