HalteViral

Memaknai Arti Bahagia

Sering kali telinga ini tidak asing mendengar pertanyaan “apa yang membuat hidupmu benar-
benar bahagia?” Sebelum anda menjawab pertanyaan ini mari pahami dulu arti bahagia menurut
para ahli. Menurut Aristoteles filsuf asal Yunani memetakan bahagia dalam dua hal. Yaitu Hedonia
dan Eudaimonia. Hedonia adalah rasa bahagia yang berakar dari hal yang menyenangkan. Umumnya
berkaitan dengan perasaan muncul saat melakukan hal yang disukai, menyayangi diri sendiri,
mewujudkan impian dan merasa puas. Sedangkan Eudaimonia adalah bahagia yang berakar dari
pencarian tentang makna hidup. Komponen yang paling penting dalam hal ini adalah perasaan
memiliki tujuan hidup dan nilai.

Menurut Walter A. Pitkin penulis buku The psychology Of happiness. Untuk bisa bahagia bukan
hanya buah dari peluang atau keberuntungan. Lebih jauh lagi bahagia bukan berkaitan dengan
kesehatan fisik atau panjang umur tetapi menjalani hidup yang bermakna. Menurut Martin Seligman
yang dikenal sebagai bapak positif psikologi menyebutkan kebahagiaan ada 3 jenis yaitu pemberian
dan rasa aman. Perwujudan kekuatan dan kebajikan serta mengerti makna dan tujuan hidup. Ketiga
jenis elemen tersebut merupakan komponen yang membantu untuk mencapai kebahagiaan dan
makna hidup. Lewat psikologi positif pula potensi untuk merasa puas dalam jangka panjang bisa ter
wujudkan. Tidak sedikit orang berpikir kebahagiaan bisa diukur dengan materi seperti kekayaan,
kepopuleran, kekuasaan dan sebagainya. Namun apakah semua itu bisa menjamin seseorang benar-
benar bahagia?

Bahagia saat memiliki kekayaan

Dilansir dari Kompas.id mantan Bos Microsoft Bill Gates, menggelar sesi AMA (Ask me anything)
di forum Online Reddit. Mulai dari pembahasan topik edukasi, kesehatan dan tontonan favoritnya.
Namun menariknya ada satu pertanyaan yang dilirik Bill Gates yakni “Apakah menjadi kaya
membuat ia benar-benar bahagia dari pada menjadi orang kelas menengah?” Tanya salah satu
pengguna Reddit bernama Daniel Ayon. Dengan penuh senyuman Bill Gates menjawab menjadi
orang kaya memang menyenangkan karena tidak perlu khawatir lagi mengenai biaya pendidikan dan
kesehatan sebagai fasilitas penunjang kehidupan. Akan tetapi ia menambahkan tingkat kebahagiaan
tidak diukur dengan menjadi orang kaya raya atau memiliki uang milyaran dolar. Menurutnya
kebahagiaan dirinya adalah ketika melihat sang anak berhasil melakukan sesuatu dan mampu
memenuhi komitmen terhadap dirinya sendiri seperti membuat pencapaian dalam hidup.

Seorang pengusaha teknologi bernama Chamath Palihapitiya menjadi sangat kaya raya.
Dilansir dari liputan6, ia adalah salah satu imigran dari Kanada yang menjadi pendiri sosial+capital
partnership. Sebelum menjadi kaya, kehidupan bersama ayahnya amatlah sederhana dan jauh dari
kekayaan sehingga ia sering diabaikan oleh teman-temannya. Karena itulah ia bertekad hanya
mengejar satu impian dengan menjadi kaya raya. Keinginannya terwujud saat ia dinobatkan menjadi
pria miliarder meskipun usianya baru 26 tahun. jabatannya tak main-main karena ia menjadi vice
president termuda sepanjang sejarah AOL. Selama menjalani karir, dia benar-benar menjauh dari
kemiskinan dengan harta hampir bernilai US$ 1 miliar. Setelah semua keinginannya terpenuhi, tak
disangka bahwa seluruh hartanya tidak mampu membuatnya bahagia. Dia menjelaskan bahwa
seluruh hartanya tidak bisa melakukan sesuatu yang lebih bermakna sehingga membuat hatinya
terasa hampa.

“Yang paling penting, saya sadar, bahwa saya perlu melakukan hal yang lebih berguna
setelah menjadi kaya. Kaya hanyalah jembatan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dan dapat
membantu orang lain, “tandasnya.

Bahagia saat menjadi terkenal

Dilansir dari Idn.times terdapat 10 selebriti Hollywood yang diduga mengalami depresi sehingga
mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara tragis. Diantaranya Lucy Gordon yang membintangi film
spiderman. Ia ditemukan tewas dengan cara gantung diri. Pada Maret 2017 musisi Tommy page
melakukan bunuh diri yang diduga karena depresi yang dideritanya. Padahal ia akan merilis album
baru dan melakukan tur keliling dunia. Dan masih banyak selebriti lainnya yang melakukan hal
serupa karena depresi.

Dari contoh-contoh kasus tersebut, sudah dipastikan mereka tidak bahagia dengan kekayaan
atau kepopuleran. Berbanding terbalik dengan kisah seorang pria bernama Simon lee yang tak kalah
menarik. Dilansir dari Bangkapos.com, Pria berumur 53 tahun ini memutuskan untuk menjadi
gelandangan dan tidur di jalanan. Sebelum menjadi gelandangan, Simon memiliki jabatan mentereng
di salah satu perusahaan yang terkemuka di Hongkong. Namun ia memiliki alasan tersendiri
mengapa ia memutuskan untuk meninggalkan kekayaan dan jabatannya. Saat ditanya mengapa ia
melakukan semua itu, jawabannya sangat tidak terduga. Karena kekayaan dan jabatan yang ia miliki,
membuat pikirannya stress dan hampir mengalami depresi.
“Bagi saya, kehidupan ini bebas. Saya tidak perlu membayar ini itu untuk hidup, saya bisa tidur di
mana saja.”
“Tidur di jalanan telah memecahkan banyak masalah yang saya hadapi selama ini,” kata. Simon
kepada South China Morning Post.
“Saya merasa telah menghemat sumber daya untuk masyarakat. Saya tidak membutuhkan uang karena saya tidak memerlukannya.”

Menurutnya, cara ini membantunya terbebas dari rasa sakit dan stres. Satu hal yang disukai Simon
soal hidup sebagai gelandangan adalah, ia tidak perlu mengkhawatirkan hari esok. Dia hanya
memikirkan hari ini dan membiarkan takdir memutuskan apa yang akan terjadi dengannya.

Kisah lainnya yang saya temukan dalam e-book yang berjudul La Tahzan karya dari Dr. Aidh Al-
Qorny. Dalam buku tersebut, beliau menceritakan secara singkat kisah seseorang yang benar-benar
menemukan kebahagiaan. Yaitu kisah seorang yang bernama Ahmad Ibn Hambal. Ia hidup sangat
bahagia. Padahal, kain putihnya yang dipakai penuh dengan tambalan dan ia sendiri yang sering
menjahitnya. Di dalam rumahnya, ia hanya mempunyai kamar berjumlah tiga yang terbuat dari
tanah. Makanan sehari-hari hanya sepotong roti yang dilumuri minyak zaitun. Sepatunya  sudah
berumur tujuh belas tahun yang selalu ditambal dan dijahitnya sendiri. Hanya sekali setiap bulan ia
makan daging. Dia sendiri lebih banyak berpuasa. Dia hanya sibuk mencari Hadist. Tetapi ia
mendapat ketenangan dan hidup tanpa beban.

Perlu dicatat bahwa hal-hal yang bersifat material seperti kekayaan, ketenaran dan kedudukan
belum tentu menjamin seseorang benar-benar bahagia. Sebaliknya kemiskinan atau kehidupan yang
sangat sederhana, belum tentu menjadikan mereka lebih menderita dan tidak bahagia. Karena
sejatinya kebahagiaan bersifat transendental dimana hal tersebut melampaui pemahaman terhadap
pengalaman biasa dan penjelasan ilmiah.

Lusi Hanasari

FIS UNNES Selenggarakan Kuliah Umum KeIndonesiaan Untuk Penguatan Cinta Tanah Air

Previous article

Seputar Taliban dan Afghanistan

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *