Jawa TengahNasionalPendidikanSosbudSurakarta

Seorang Abdi Dalem, Kemenyan, dan Stigma Negatif Masyarakat

“Orang-orang selalu bicara kalau pakai kemenyan itu musyrik”, padahal maksudnya tidak begitu…”, ucap seorang abdi dalem kepada saya.

Siang itu, saya dan seorang teman mengunjungi Kompleks Masjid Mataram Kotagede sambil mengamati ada apa saja di sekitarnya. Setiap sudut masjid ini kental akan arsitektur dan ornamen Jawa kuno.

Kami menghampiri seseorang yang memakai baju adat Jawa, lengkap dengan blangkon. Ternyata, beliau merupakan seorang abdi dalem Surakarta yang ditugaskan di sini. Jadi, Kompleks Masjid Mataram Kotagede dijaga oleh abdi dalem dari Surakarta dan Yogyakarta.

Awalnya, kami bertanya-tanya mengenai makna arsitektur masjid. Karena penasaran, lama-kelamaan kami menyinggung mengenai kemenyan. Abdi dalem itu dengan tenang menjelaskan kepada kami, “Sebenarnya, kemenyan digunakan sebagai wewangian agar ibadah kepada Yang Mahakuasa makin khusyuk.” Sementara saya tambah bertanya-tanya dalam hati, beliau kembali menimpali, “Coba, Mbak semprotkan aromaterapi atau parfum ke ruang ibadah, matikan lampu atau boleh juga dihidupkan, dan rasakan!” Saya dan teman saya diam, berkontemplasi, dan berusaha memaknainya. “Ah bisa jadi benar juga, ya”, batin saya sambil membayangkan.

Abdi dalem itu pun bercerita bahwa ia sering dianggap “menyimpang” hanya karena memakai pakaian Jawa dan melakukan berbagai ritual. Pernah suatu saat, beliau digunjing oleh penceramah di masjid dekat rumahnya. “Saya sudah nggak mau pergi ke sana lagi!”, kata beliau sambil mengingat-ingat kejadian tidak mengenakkan yang dialami. Pencarian spiritualitas pernah beliau lakukan juga karena kekecewaan terhadap orang-orang beragama yang tidak memiliki kasih sayang di dalamnya.

Selama ini, orang kebanyakan hanya melihat simbol dan apapun yang tampak oleh mata, tanpa mengetahui apa yang ada di balik hari orang lain. Tak jarang, melabeli orang lain musyrik, menyimpang dari nilai dan norma tanpa mau mengobrol dan mengenali mereka lebih dekat.

Selain penggunaan kemenyan, tradisi Slametan, Kenduri, dan lain-lain tak luput dari tuduhan menyimpang dan stigma negatif. Memang, tidak setiap pikiran dan perilaku masyarakat harus bisa diterima oleh semua orang. Namun, yang bisa kita lakukan yaitu berempati serta bertoleransi dengan berusaha tidak menyakiti hati sesama. Kalau tidak tahu, cobalah bertanya. Kita boleh, kok memiliki sebuah pendapat. Tapi, siapa kita, kok pendapatnya harus disetujui oleh orang lain?

Lena Sutanti

Santunnya Media Jepang Memberitakan Duka Bencana atau Kecelakaan

Previous article

Bobol Basis Data Polri, Peretas Brasil ‘son1x’ Bagikan Hasilnya di Twitter

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *