Connect with us

Toxic Positivity : Penyengat Yang Bersembunyi Dibalik Semangat

Nasional

Toxic Positivity : Penyengat Yang Bersembunyi Dibalik Semangat

Bagaimana kata-kata positif justru memiliki dampak negatif pada seseorang?

Toxic Positivity : Penyengat Yang Bersembunyi Dibalik Semangat

Bagaimana kata-kata positif justru memiliki dampak negatif pada seseorang?

dutadamaijawatengah.id – The Lord of the broken heart alias Didi Kempot dalam setiap konsernya selalu mengajak penontonnya untuk melepaskan beban. Wes tangiske bae, Nagiske bae ojo diempet adalah contoh dua kalimat yang selalu diteriakkan penonton disetiap konser Didi Kempot.

Seperti dalam salah satu video di Youtube, di konser tersebut, ada satu laki-laki yang meneriakkan lirik Kalung Emas sambil menangis meronta-ronta. Melihat hal tersebut, penonton lain bersorak “Nangiske! Nangiske!” yang artinya, “Tangisin aja! Tangisin aja!”

Dengan 800 lagu karyanya, Didi Kempot selalu mengungkapkan perasaannya lewat lagu. Karena bagi dia, melepaskan kesedihan adalah sesuatu yang tidak salah. Termasuk di tempat yang terhitung ramai seperti konser.

Kita tidak perlu merasa selalu menjadi sosok yang terlihat sangat kuat dan selalu bahagia. Perlu kita sadari juga, bahwa dalam diri setiap orang terdapat emosi lain seperti sedih, takut dan marah. Dan itu tidak masalah.

Diantara pembaca disini pasti masih ada yang beranggapan bahwa para “pria itu harus kuat”. Beberapa dari kita pun pasti pernah mencoba menceritakan masalah ke orang lain. Dan yang muncul tanggapan seperti  “Alaaah, gitu doang mah masih mending. Gue pernah lebih parah…”.

Dan dilanjutkan bahwa kita harus bisa mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Untuk kemudian kembali kuat dan meneruskan hidup seperti tak terjadi apa-apa. Oh serta ia memintamu bersyukur karena ada yang nasibnya lebih kurang beruntung dari yang kalian alami.

Kalimat dan nasehat yang diberikan orang seperti itu bisa jadi adalah bentuk Toxic Positivity

Toxic Positivity adalah suatu istilah yang merujuk pada situasi ketika seseorang “memaksa” orang lain untuk merasakan sisi baik dari suatu hal. Serta tanpa memberi kesempatan orang itu untuk meluapkan perasaannya.

Dalam postingan di instagramnya, Dr. Jiemi Ardian, residen psikiatri di Rumah Sakit Muwardi Solo, memberitahukan adanya perbedaan antara toxic positivity dan empati. Jiemi kemudian mencontohkan kalimat yang menunjukkan empati.

Seperti, “Wajar jika kita merasa kecewa dalam hal ini”, dan “Aku pikir kamu pasti merasa berat saat ini, ya…” Kalimat-kalimat ini tidak memaksa si penerima untuk mengabaikan emosi negatifnya.

Kenyataanya, tidak semua orang kemudian curhat untuk mencari solusi dalam permasalahannya. Sebagian orang hanya ingin curhat karena hanya ingin didengar. Atau bisa dibilang orang ini hanya butuh validasi atas perasaannya.

Dalam Psych Alive, validasi adalah tindakan guna memberitahu seseorang bahwa apa yang ia rasakan dan alami itu nyata. Ketika perasaan individu ini tervalidasi dengan didengarkan, ia akan merasa dipahami.

Seorang peneliti asal Denmark, Mette Böll, melakukan eksperimen. Ia menghadapkan karyawan minimarket pada sebuah situasi sulit. Hasilnya, Böll menemukan bahwa kondisi paling stres bagi karyawan bukanlah berhadapan dengan pelanggan yang menyebalkan, tapi bagaimana ia harus berpura-pura terus positif di depan pelanggannya.

Apalagi di masa pandemic seperti ini, yang mengharuskan seseorang untuk lebih banyak berkegiatan di rumah aja dan mengurangi aktibitas diluar rumah. Karantina yang kita lakukan seperti ini berpengaruh terhadap Kesehatan mental kita. Bukan tidak mungkin dinatara kita ada merasa sedih atau bosan atau lelah dengan situasi ini.

Maka belajar dari Didi Kempot dan pasukan Sobat Ambyarnya, mari lampiaskan perasaan itu. Tidak ada yang salah dengan menangis dan bersedih. Terkadang manusia memang lupa bahwa menangis bukan tanda seseorang lemah. Air mata dan perasaan malah diciptakan sebagai tanda keunggulan manusia daripada robot.

Buat kamu yang sering jadi teman curhat, belajar juga dari Didi Kempot. Hapus toxic positivity. Beri dia tempat untuk meneriakkan perasaannya. Biarkan ia jujur terhadap dirinya sendiri.

Kamu mungkin satu-satunya orang yang dipercaya untuk menceritakan masalahnya. Ajak ia menari dengan ambyar. Atau kata Didi Kempot dalam interview-nya bersama Gofar Hilman: “Terima saja. Perasaan itu adalah anugerah.”

 

Disclaimer : Artikel ini diparafrase dan diringkas dari blog.ruangguru.com dengan judul Toxic Positivity: Ketika Ucapan Positif Berdampak Negatif pada link ini

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top