Halte

Putar ‌Balik, Landasan ‌Filosofi ‌Demi ‌Keselamatan ‌Rakyat

Topik Putar balik di ramadhan kali ini menjadi topik paling hangat yang dibicarakan. Tentunya selain pembicaraan seputar hangatnya opor ayam dan ketupat lebaran.

Bagaimana tidak ? Beberapa orang menjadi viral,karena marah-marah  disuruh putar balik. Memang agak sedikit diplomatis kebijakan pemerintah yang melarang  mudik lebaran tahun ini, namun mengizinkan tempat wisata buka.

Karena kebijakan yang serba diplomatis inilah,pada akhirnya mbak-mbak cantik kaos kuning,ibu-ibu muda jilbab biru dan beberapa masyarakat lainnya merasa aman untuk bepergian ke tempat wisata dan melenggang dengan santai. Lah dilalah, ndak disangka dan dinyana  juga,kebijakan demikian pada akhirnya membuat beberapa tempat wisata panen dadakan.

Melihat animo masyarakat yang sepertinya sudah tidak tertahankan hasrat untuk piknik setelah lebaran dan menyebabkan membludaknya pengunjung .  Pemerintah juga akhirnya panik malah ga perlu lagi ditanya kayak lagu di Tiktok yang panik ga? panik ga? Paniklah masa enggak.

Dan timbul kekhawatiran melonjaknya kasus Covid 19  seperti di India dan Malaysia,maka Pemerintah buru-buru mengeluarkan kebijakan penutupan tempat wisata dan terpaksa memutarbalikkan mbak-mbak dan bunda-bunda cantik untuk kembali ke rumah.

Tak disangka-sangka, reaksi mereka yang disuruh putar balik demi keselamatan dan kesehatan diri sendiri ,justru berbanding terbalik. Mereka yang disuruh putar balik malah marah-marah seperti pacar yang lagi badmood kalo ditanya makan apa,jawabnya terserah.

Memang sih kalo dipikir-pikir ya wajar beberapa orang itu merasa terdzalimi karena sudah apek-capek bangun pagi,dandan ini itu,siap-siap bekal  . Belum lagi terkadang menempuh perjalanan yang agak  jauh eh malah  disuruh putar balik.  Tapi lha mau bagaimana lagi, memang kenyataan covid 19 masih ada dan menggentayangi kita. Bahkan sudah beberapa sanak saudara saya yang menjadi korban kejahatan covid 19 ini . Sikap Pemerintah  yang bagi sebagian orang dianggap mencla-mencle sebenarnya juga tidak seperti itu, Pemerintah juga pasti kebingungan dan puyeng,bagaimana menyikapi covid 19 yang kian hari tidak menentu.

Pemerintah ketat, rakyatnya susah dan  tempat wisata serta ekosistem  sekitarnya akan lumpuh. Namun kalo  pemerintah longgar dan abai ,maka ya konsekuensinya korban akan makin banyak. Kebijakan yang paling tepat ya memang seperti ini, KEBIJAKAN BUKA TUTUP. Paling tidak beberapa tempat wisata masih merasakan sedikit rejeki meskipun terbatas dan resiko klaster kepariwisataan juga dapat diminimalisir.

Jangan lupa juga sebenarnya Pemerintah  bersikap demikian , demi berupaya melindungi dan memenuhi hak-hak asasi manusia.  karena kita  sebagai warga negara indonesia sejatinya berhak memperoleh kesehatan sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia . Kalo dimaknai lebih dalam , kebijakan yang terkadang bikin geleng-geleng kepala justru malah menyelamatkan kita.

Pemerintah  melakukannya demi terlaksananya hak kita akan kesehatan yang terdapat dalam pasal 28 H UUD NRI 1945 bahwa “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.”

Dengan adanya pasal ini, hak kesehatan ini bukan  hak yang hanya  bisa digantungkan pada nasib dan takdir TUHAN semata. Karena sudah menjadi Hak Hukum (legal rights) setiap orang dan menjadi tanggung jawab negara.

Bagi anda yang mungkin tidak percaya adanya covid 19 dan menyepelekannya itu merupakan pendapat  pribadi anda, namun tidak semua sependapat dengan anda. Mayoritas percaya dan bahkan mengalami bagaimana terpapar  covid 19 dan penyakit ini mengambil nyawa  orang-orang terdekat. Maka secara otomatis, para penyintas covid 19 juga mendapat hak yang sama dalam hukum perihal kesehatan.

Covid-19 itu nyata dan berbagai macam analisa serta teori konspirasi juga benar, namun untuk memaknai sebuah putar balik bukan hanya meyakini kedua hal itu, namun juga bercermin dari hati nurani serta melihat gejala yang nyata di sekitar kita tentang Covid-19.

Tidak peduli seberapa khatam anda akan buku-buku teori konspirasi illuminati,freemason atau apapun itu dan mungkin juga percaya bahwa ini buatan rotschild,rockefeller atau siapapun, pada faktanya anda tidak boleh egois dan memaksakan kesesatan berpikir. beberapa kebijakan berubah dengan sangat cepat itu memang wajar dan harus berlapang hati serta menyadari.

Semoga dengan kebijakan pemerintah di ramadhan tahun ini tidak banyak terjadi peningkatan kasus covid 19. Karena sebenarnya masih banyak yang lolos mudik dan semoga tidak ada lagi kasus kejadian serupa.Masih mending anda disuruh minta maaf, daripada kena hukuman yang lebih berat karena melawan undang-undang dasar? Pilih mana, hayo?

Samudra Putra Indratanto, Mahasiswa S2 Hukum Unair, Legal Advisor

Ada Sunda di Jawa Tengah. Bagaimana Bisa?

Previous article

Umbi Porang Sebagai Penanganan Masalah Gizi dan Ekonomi

Next article

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *