free page hit counter
Meriahnya Nasionalisme pada Tradisi Kirab Dugderan di Kota Semarang

Dugderan merupakan salah satu tradisi penyambutan bulan Ramadhan yang dilaksanakan oleh umat Islam di Semarang. Dugderan menjadi salah satu budaya yang dilestarikan oleh masyarakat khsususnya kota Semarang karena merupakan salah satu tradisi yang unik dan khas dari kota Semarang. Dugderan ini dapat diikuti oleh seluruh kalangan tak terkecuali oleh umat agama lain.

Budaya menjadi hal yang sudah melekat dan menjadi identitas masyarakat di setiap wilayah di Indonesia. Budaya menjadi identitas khususnya di Indonesia, hal ini dikarenakan budaya dijadikan sebagai ciri khas pada wilayah tertentu. Karena berfungsi sebagai identitas keberadaan budaya perlu dilestarikan hal ini bertujuan agar ciri atau identitas dari wilayah tidak hilang tergerus oleh jaman.

Pelestarian budaya merupakan bentuk dari rasa cinta tanah air, dengan mencintai budaya masyarakat juga berkontribusi terhadap lestarinya budaya yang dimiliki. Rasa cinta terhadap budaya ini juga salah satu bentuk nasionalisme, dengan cinta dan tetap mempertahankan budaya artinya generasi dan masyarakat juga menjaga keutuhan dan persatuan bangsa dan negara.

Budaya yang menjadi kearifan lokal ini selain sebagai integrasi dan menguatkan kohesi sosial, juga berfungsi sebagai kontra dari perubahan ekstrem. Perubahan ekstrem merupakan perubahan yang diinginkan oleh sekelompok tertentu yang mengarah pada perpecahan suatu bangsa. Budaya merupakan hasil dari gagasan masyarakat dan gagasan ini dapat berasal dari banyak pemikiran dari orang dengan golongan yang berbeda. Perbedaan inilah yang kemudian akan menumbuhkan jiwa nasionalisme karena beberapa orang yang memiliki identitas berbeda akan bersatu dan tumbuh persatuan dan kesatuan yang dapat menekan perkembangan pemikiran ekstrem. Hal ini yang disampaikan Bapak Syamsul Ma’arif pada kegiatan Regenerasi Duta Damai Dunia Maya Regional Jawa Tengah (13/6/2023) bahwa kearifan lokal ini dapat berfungsi sebagai pencegahan dari adanya radikalism dan menjadi way of life dan sebagai kontra radikalisme.

Dugderan merupakan salah satu kearian lokal yang dimiliki masyarakat kota Semarang. Dugderan menjadi salah satu bentuk perwujudan dari nasionalisme karena pada dasarnya tradisi ini merupakan perpaduan antara tiga budaya diantaranya budaya Arab, Jawa dan China. Dugderan merepresentasikan keberagaman dari perpaduan budaya yang memiliki karakteristik berbeda.

Sejak pandemi Covid-19 tradisi ini sempat terhenti karena mengingat penyebaran virus yang berbahaya. Namun tahun 2023 pemerintah kota Semarang memberikan intruksi untuk melaksanakan kembali tradisi Dugderan ini. Dugderan 2023 dilaksanakan pada Selasa, 22 Maret 2023. Tradisi Dugderan dinilai sangat meriah dan bahkan antusiasme warga kota Semarang sangat tinggi mengingat sempat tertundanya tradisi ini selama pandemi Covid-19.

Kirab budaya Dugderan identik dengan atraksi Barongsai dan tari Gebyar Dugder. Dugderan identik dengan Warak Ngendok yang menjadi icon utama dari tradisi Dugderan. Selain dari perpaduan tiga budaya yang menjadi karakteristik Dugderan ini, hal lain yang tidak kalah penting adalah peserta yang mengikuti tradisi Dugderan. Nasionalisme tidak hanya tergambar dari meriahnya keunikan acara Dugderan namun dari peserta itu sendiri, peserta dari Dugderan tidak terbatas hanya untuk umat Islam saja hal ini yang menjadi keunikan lain dari tradisi Dugderan karena diikuti oleh semua kalangan baik itu muda, tua, anak-anak, Kristen, Islam dan pemeluk agama-agama lain dapat mengikuti kegiatan kirab budaya Dugderan. Tradisi Dugderan secara tidak langsung menjaga jiwa nasionalisme bagi masyarakat melalui perpaduan budaya dan kemeriahan acara yang ada didalamnya.

 

Penulis: Nur Khalim

Desain : Nabilul Mas’ud (@___nblll)

 

Sumber:

https://www.suaramerdeka.com/semarang-raya/048149278/berlangsung-meriah-perpaduan-tiga-budaya-bertemu-di-kirab-budaya-dugderan-semarang-2023

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.