free page hit counter
Tradisi Grebek suro; Makna dan Budaya

Berbeda dengan peringatan tahun baru masehi yang dimana pada kota-kota besar masyarakat menyambutnya dengan kemeriahan petasan. Sedangkan pada Grebeg Suro dengan kalender tahun baru Jawa menyambut tahun baru masyarakat biasanya mengadakan ritual-ritual tertentu dengan tujuan berdoa menyembah Tuhan YME.

Nah, perayaan Grebeg Suro ini ditandai dengan adanya Kirab Pusaka. Biasanya akan ada sampai ribuan orang yang mengikuti perayaan ini di Keraton Surakarta. Mulai dari raja beserta keluarga, lalu para abdi dalem yang tersebar di seluruh Solo Raya ikut dalam iring-iringan kirab itu. Semua peserta Kirab akan menggunakan pakaian berwarna hitam. Saat itu, laki-laki menggunakan pakaian adat Jawa berwarna hitam yang dikenal dengan nama jangkep, sedangkan perempuan menggunakan kebaya berwarna hitam.

Sedangkan Pusaka yang dimaksud adalah bukan hanya keris tetapi segala benda bersejarah peninggalan raja atau keraton seperti gamelan, tombak termasuk juga kerbau yang dirawat dan dijaga dengan baik. Nah, kerbau yang dimaksud ini yaitu kerbau keturunan dari Kerbau bernama Kyai Slamet yang merupakan kerbau pemberian dari Bupati Ponorogo pada Pakubowono II. Uniknya itu, pada saat kirab pusaka kerbau-kerbau ini ditempatkan dibarisan paling depan beserta pawangnya. Tahu tidak? Jika kerbau itu buang kotoran, bagi sebagian masyarakat percaya jika mereka mengambil kotoran kerbau tersebut akan mendatangkan rejeki, kemakmuran, dan keberkahan, lho!

Selain adanya Kirab Pusak yang menjadi ciri khas penyelenggaraan Grebeg Suro di Surakarta, ada pula acara yang tidak kalah meriahnya, yaitu mengumpulkan masyarakat atau biasa yang disebut dengan Tirakatan. Acara Tirakatan ini ditandai dengan adanya gunungan atau yang disebut tumpeng yang berukuran besar. Gunungan atau tumpeng besar tersebut berisi berbagai macam jenis pangan sebagai salah satu hasil bumi seperti beras, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan sebagai penyembahan kepada Tuhan YME.

Untuk maknanya sendiri secara umum Grebeg Suro dimaknai sebagai perayaan datangnya bulan Suro. Makna lainnya yaitu sebagai bentuk penyembahan masyarakat kepada Tuhan, lalu Kirab Pusaka dimaknai sebagai bentuk panjat doa kepada tuhan yang dibuktikan dengan petugas pembawa pusaka saat Kirab Pusaka berlangsung sehingga terlihat khusuk dan kesan religius sangat terasa. Acara Tirakatan dimaknai sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME, hal tersebut ditandai dengan adanya gunungan atau tumpeng besar.

Rasyid, S. 2022. 3 Fakta Kirab Malam Satu Suro Keraton Surakarta, Rutin Digelar Selama Ratusan Tahun. Dikutip dari: https://www.merdeka.com/jateng/3-fakta-kirab-malam-satu-suro-keraton-surakarta-rutin-digelar-selama-ratusan-tahun.html

Rini, I. E. 2012. Makna Tradisi Grebeg Suro Dalam Melestarikan Budaya Bangsa Bagi Masyarakat (Studi Kasus Masyarakat Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Kliwon Surakarta). Universitas Sebelas Maret. Link : https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/25392

Penulis: Luthfi Fadhil Pratama Yanuar @‌fadhilpratama_04
Desain: Ninda Munaya @ninmusah
Editor : Nazillatul Khuril’in

Credit gambar:
tangkap layar Instagram @‌puramangkunegaran
ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

Leave a Reply

Your email address will not be published.